Selasa, 14 Desember 2010

Kebaikan Melindungi Sang Pelaku




Kebaikan Melindungi Sang Pelaku

Kisah Sang Maestro Matsushita


Di tahun 1929, pernah terjadi 'depresi ekonomi global'. Wall Street menukik tajam tak terkendali. Surat saham tak lebih nilainya seperti kertas biasa.


Saat itu, General Motor terpaksa mem-PHK separo dari 92.829 karyawannya. Perusahaan besar maupun kecil bangkrut.

Jutaan orang menjadi pengangguran. Jutaan orang kelaparan. Daya beli turun bersama harga dan lowongan pekerjaan.

Malam menjadi gelap gulita. Kepanikan terjadi di mana-mana. Toko yang masih bertahan, menghentikan pembelian dari pabrik karena gudang sudah penuh dengan barang yang tidak terjual.

Saat itu, Konosuke Matsushita yang memproduksi peralatan listrik bermerek National dan Panasonic baru saja merampungkan pabrik dan kantor dengan pinjaman dari Bank Sumitomo.

Kondisi badannya sering sakit-sakitan akibat gizi yang kurang di masa kanak-kanak, ditambah lagi dengan kerja 18 jam sehari, 7 hari seminggu selama 12 tahun merintis usahanya. Hanya semangat hiduplah yang membuatnya masih bernapas.

Dengan punggung bersandar ke tembok rumah, Matsushita mendengarkan laporan tentang kondisi perekonomian yang terus memburuk ketika manajemennya datang menjenguk. Lalu bagaimana tanggapannya ?

"Kurangi produksi separonya, tetapi JANGAN mem-PHK karyawan. Kita akan mengurangi produksi bukan dengan merumahkan pekerja, tetapi dengan meminta mereka untuk bekerja di pabrik hanya setengah hari.

Kita akan terus membayar upah seperti yang mereka terima sekarang, tetapi kita akan menghapus semua hari libur. Kita akan meminta semua pekerja untuk bekerja sebaik mungkin dan berusaha menjual semua barang yang ada di gudang."

Perintah ini bagi anak buahnya sama anehnya dengan depresi ekonomi itu sendiri. Koq bisa terjadi, yah ?

Dalam situasi begitu, sangatlah masuk akal jika perusahaan mem-PHK karyawan demi efisiensi. Namun Matsushita karena keyakinannya pada sang kebajikan sudah mantap, demi kelangsungan hidup anak-istri karyawannya, akhirnya mampu menghasilkan terobosan yang manusiawi pada masa depresi ekonomi tersebut.

Kebajikan Matsushita terhadap karyawannya mendapatkan hasil yang manis 16 tahun kemudian dari karyawan yang pernah ditolongnya. Ia menuai buah kebajikannya sendiri.

Ketika Perang Dunia II berakhir, Jenderal Douglas McArthur yang mengendalikan Jepang, menangkapi semua pengusaha Jepang untuk diadili karena keterlibatan mereka selama perang.

Pada kurun 1930-an, para pengusaha Jepang, termasuk Matsushita, mendapat tekanan rezim militer Jepang saat itu untuk memproduksi senjata dan logistik militer lainnya. Maka Matsushita pun ikut ditangkap.

Sekitar 15.000 pekerja bersama keluarganya membubuhkan tanda tangan petisi pembelaan untuk Matsushita !!! Jenderal McArthur pun tercengang oleh petisi tersebut dan akhirnya membebaskan Matsushita.

Tidak ada pemilik usaha dan pimpinan industri sebelum perang dunia kedua yang diizinkan McArthur kembali ke pekerjaannya kecuali Matsushita.

Demikianlah Matsushita dapat terus memimpin perusahaannya sampai menjadi raksasa elektronik dunia, dan baru pensiun pada tahun 1989 pada usia 94 tahun.

Ketika Matsushita meninggal tahun 1990, bukan cuma para pebisnis yang berduka cita. Presiden Amerika saat itu, George Bush (Senior), pun turut berduka.

Matsushita berhasil membangun dirinya melewati ambang batas pengusaha yang umumnya selalu lapar duit dan haus fulus serta menjadi pribadi yang humanis dan filsuf yang sangat peduli terhadap kemanusiaan.

Bagi Matsushita, uang bukanlah tujuan. Meskipun butuh uang tetapi uang bukanlah segala-galanya. Baginya, uang adalah sarana untuk melakukan kebajikan.

Itu sebabnya, beliau tidak pernah menggigit orang, main curang, atau merebut jatah orang lain. Matsushita yakin bahwa kalau kita tidak jahat dan terus berbuat baik maka kejahatan akan menjauhi kita dan kebaikan akan melindungi kita.

Senin, 13 Desember 2010

Hukum Menabur dan Menuai




Hukum Menabur dan Menuai



Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dia sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang, semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok.

Pemuda yang pertama tadi hendak sekuat tenaga memberikan pertolongannya, dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat di selamatkan. Pemuda yang pertama memapah pemuda yang terperosok ini pulang ke rumahnya.

Ternyata rumah sipemuda kedua sangat bagus, besar, megah, dan mewah…Ayah pemuda ini sangat berterima kasih atas pertolongan yang di berikan kepada anaknya, dan hendak memberikan uang, pemuda yang pertama ini menolak pemberian tersebut. Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang dalam kesusahan.

Sejak kejadian ini mereka menjalin persahabatan. Pemuda pertama adalah seorang yang miskin, sedangkan pemuda kedua adalah bangsawan yang kaya raya. Si pemuda yang miskin ini mempunyai cita-cita untuk menjadi dokter, namun ia tidak mempunyai biaya untuk kuliah. Tetapi, ada seorang yang murah hati, yaitu ayah dari pemuda bangsawan itu. Ia memberi beasiswa sampai akhirnya meraih gelar dokter.

Tahukah saudara nama pemuda miskin yang jadi dokter ini? Namanya FLEMING, yang kemudian menemukan obat Penisilin. Si pemuda bangsawan masuk dinas militer dan dalam suatu tugas ke medan perang, ia terluka parah sehingga menyebabkan demam yang sangat tinggi karena infeksi. Pada waktu itu belum ada obat untuk infeksi serupa itu. Para dokter mendengar tentang penisilin penemuan Dr.Fleming dan mereka menyuntik dengan penisilin yang merupakan obat penemuan baru. Apa yang terjadi? berangsur-angsur demam akibat infeksi itu reda dan si pemuda akhirnya sembuh !!

Tahukah saudara siapa nama pemuda itu ? Dia adalah WINSTON CHURCHIL — PM Inggris yang termasyhur itu.

Dalam kisah ini kita dapat melihat hukum menabur dan menuai. Fleming menabur kebaikan — Ia menuai kebaikan pula — cita-citanya terkabul, ia menjadi dokter. Fleming menemukan penisilin yang akhirnya menolong jiwa Churchil.

Tidak sia-sia bukan beasiswa yang diberikan ayah Churchil?

Minggu, 12 Desember 2010

Richard Gere:Kebahagiaan bagi Semua Makhluk




Kebahagiaan bagi Semua Makhluk

Richard Gere



Richard Gere, aktor pemenang Oscar dan terkenal lewat penampilannya di Pretty Woman, Runaway Bride, dan An Officer and A Gentleman, saat ini adalah seorang praktisi Buddhis yang sangat serius. Gere, bersama dengan selebritis Hollywood terkenal lainnya, seperti Harrison Ford, Goldie Hawn, dan Keanu Reeves, telah berada di barisan terdepan dalam mempromosikan Buddhisme Tibet dan budayanya kepada bangsa Barat. Berikut ini adalah ringkasan dari interviewnya dengan Rajiv Mehrotra untuk stasiun televisi India Doordarshan:



Anda sering datang ke India. Apa yang membawa Anda kemari?

Hmm.., tentunya Yang Mulia Dalai Lama. Saya telah menjadi muridnya sekitar tahun I982-83. Kadang saya pergi ke Dharamsala (pusat pemerintahan Tibet di pengasingan daerah India Utara) bisa sampai 2-3 kali setahun.



Dalam hal apa Yang Mulia Dalai Lama telah mengubah Anda?

Kebanyakan guru saya berasal dari Sekolah Buddhis Tibet Gelugpa. Di sana banyak terdapat pelatihan pikiran, permainan logika, dan pencarian akan realitas itu sendiri, yang menggunakan bahasa dan logika murni bersamaan dengan berbagai variasi teknik meditasi. Itu merupakan proses bertahap seining dengan terbiasanya pikiran dalam melihat sesuatu dengan cara yang berbeda, dan mudah-mudahan merupakan cara yang tepat. Jadi, itu merupakan serangkaian proses yang membutuhkan waktu sampai beberapa kehidupan, tetapi dalam satu kehidupan seseorang sudah bisa melihat perubahan secara bertahap. . .



Anda pernah menyebutkan bahwa Dalai Lama adalah seorang manusia yang luar biasa. Anda juga sering bersamanya sebagai seorang murid. Menurut Anda, apa peranan dan kontribusi dari seorang Dalai Lama?

Beliau adalah sosok manusia yang paling sederhana sekaligus paling kompleks yang pernah saya temui. Beliau seorang artis dan juga seorang petani. Beliau mempunyai hati dan pikiran yang luar biasa, yang sanggup membawa masing-masing dari kita memasuki level keberadaan diri kita sendiri. Beliau telah memberikan saya ajaran tentang Shantideva, maha bhikkhu India sekitar abad ke-9 di Universitas Nalada, salah satu universitas terbesar pada zaman dulu, yang melihat pesatnya perkembangan kebudayaan India.



Anda juga pernah menyebutkan bahwa menjadi seorang aktor hanyalah sebuah pekerjaan. Kepuasan apa yang Anda dapatkan dari pekerjaan sebagai seorang aktor?

Hmm.., hal yang pertama adalah fakta bahwa saya bisa menjalani kehidupan yang berlainan dalam satu kehidupan. Dalam hal ini terdapat banyak kemungkinan pengembangan diri yang tergantung bagaimana saya menyikapinya.



Richard Gere, sang aktor terkenal. Jika ketenaran Anda sebagai aktor sudah habis, kira-kira Anda akan menjadi apa? Dan apa yang akan Anda lakukan?

Saya bisa lebih banyak berlatih untuk satu hal saja. Musik telah menjadi bagian yang besar dalam hidup saya, dan banyak akting saya juga berkenaan dengan musik dan bermain alat musik. Dalam cara saya bekerja juga terdapat citarasa musik.



Jika saya adalah seorang jin pengabul permohonan dan saya mengizinkan Anda membuat 3 permohonan, apa yang akan Anda minta?

Pertama, kebahagiaan bagi semua makhluk. Kedua, kebahagiaan bagi semua makhluk. Dan ketiga, kebahagiaan yang menyebabkan kebahagiaan bagi semua makhluk. Tidak perlu dipertanyakan lagi.



Sumber: How to Develop Happiness in Daily Living

Penerbit : Bodhi Buddhist Centre Indonesia, Medan

Sabtu, 11 Desember 2010

Rahasia si Untung


Rahasia si Untung

Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek.

Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung.


Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya. Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang-orang beruntung dengan yang sial.

Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesannya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa? Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah-tengah koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!” Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan empat faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:

1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.


Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam. Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan. Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara. Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya: – Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi. – Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.


3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.


4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umumnya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.


Sekolah Keberuntungan.

Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School. Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang-orang semacam itu adalah dengan membuat “Luck Diary”, buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi. Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yang mereka tuliskan. Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka. Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk teman semua.


Siap mulai menjadi si Untung?

Jumat, 10 Desember 2010

7 Keunggulan Ajaran Buddha




7 Keunggulan Ajaran Buddha



Buddha diagungkan bukan karena kekayaan, keindahan, atau lainnya. Beliau diagungkan karena kebaikan, kebijaksanaan, dan pencerahanNya. Inilah alasan mengapa kita, seorang Buddhis, menganggap ajaran Buddha sebagai jalan hidup tertinggi.

Apa sajakah keunggulan-keunggulan yang menumbuhkan kekaguman kita terhadap ajaran Buddha?

1. Ajaran Buddha tidak membedakan kelas / kasta

Buddha mengajarkan bahwa manusia menjadi baik atau jahat bukan karena kasta atau status sosial, bukan pula karena percaya atau menganut suatu kepercayaan. Seseorang baik atau jahat karena perbuatannya. Dengan berbuat jahat, seseorang menjadi jahat, dan dengan berbuat baik, seseorang menjadi baik. Setiap orang, apakah ia raja, orang miskin atau pun orang kaya, bisa masuk surga atau neraka, atau mencapai Nibbana, dan hal itu bukan karena kelas atau pun kepercayaannya.

2. Ajaran Buddha mengajarkan belas kasih yang universal

Buddha mengajarkan kita untuk memancarkan metta (kasih sayang dan cinta kasih) kepada semua makhluk tanpa kecuali. Terhadap manusia, janganlah membedakan bangsa. Terhadap hewan, janganlah membedakan jenisnya. Metta harus dipancarkan kepada semua hewan termasuk yang terkecil seperti serangga.

3. Dalam ajaran Buddha, tidak seorang pun diperintahkan untuk percaya

Sang Buddha tidak pernah memaksa seseorang untuk mempercayai ajaranNya. Semua adalah pilihan sendiri, tergantung pada hasil kajian masing-masing individu. Buddha bahkan menyarankan, “Jangan percaya apa yang Kukatakan kepadamu sampai kamu mengkaji dengan kebijaksanaanmu sendiri secara cermat dan teliti apa yang Kukatakan.” Ajaran Buddha tidak terlalu dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan dan kritik-kritik terhadap ajaranNya. Jelaslah bagi kita bahwa ajaran Buddha memberikan kemerdekaan atau kebebasan berpikir.

4. Agama Buddha mengajarkan diri sendiri sebagai pelindung

Buddha bersabda, “Jadikanlah dirimu pelindung bagi dirimu sendiri. Siapa lagi yang menjadi pelindungmu? Bagi orang yang telah berlatih dengan sempurna, maka dia telah mencapai perlindungan terbaik.”

Ini bisa dibandingkan dengan pepatah bahasa Inggris, “God helps those who help themselves” –Tuhan menolong mereka yang menolong dirinya sendiri. Inilah ajaran Buddha yang menyebabkan umat Buddha mencintai kebebasan dan kemerdekaan, dan menentang segala bentuk perbudakan dan penjajahan.

Buddha tidak pernah mengutuk seseorang ke neraka atau pun menjanjikan seseorang ke surga, atau Nibbana; karena semua itu tergantung akibat dari perbuatan tiap-tiap orang, sementara Buddha hanyalah guru atau pemimpin. Seperti tertulis dalam Dhammapada, “Semua Buddha, termasuk Saya, hanyalah penunjuk jalan.” Pilihan untuk mengikuti jalanNya atau tidak, tergantung pada orang yang bersangkutan.

5. Ajaran Buddha adalah ajaran yang suci

Yang dimaksudkan di sini adalah ajaran tanpa pertumpahan darah.

Dari awal perkembangannya sampai sekarang, lebih dari 2500 tahun –ajaran Buddha tidak pernah menyebabkan peperangan. Bahkan, Buddha sendiri melarang penyebaran ajaranNya melalui senjata dan kekerasan.

6. Ajaran Buddha adalah ajaran yang damai dan tanpa monopoli kedudukan

Dalam Dhammapada, Buddha bersabda, “Seseorang yang membuang pikiran untuk menaklukkan orang lain akan merasakan kedamaian.” Pada saat yang sama, Beliau memuji upaya menaklukkan diri sendiri. Beliau berkata, “Seseorang yang menaklukkan ribuan orang dalam perang bukanlah penakluk sejati. Tetapi seseorang yang hanya menaklukkan seorang saja yaitu dirinya sendiri, dialah pemenang tertinggi.”

Di sini, menaklukkan diri sendiri terletak pada bagaimana mengatasi kilesa (kekotoran batin). Andaikan semua orang menjadi umat Buddha, maka diharapkan manusia akan beroleh perdamaian dan kebahagiaan. Buddha mengatakan bahwa semua makhluk harus dianggap sebagai sahabat atau saudara dalam kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Beliau juga mengajarkan semua umat Buddha untuk tidak menjadi musuh orang-orang tidak satu keyakinan atau pun menganggap mereka sebagai orang yang berdosa. Beliau mengatakan bahwa siapa saja yang hidup dengan benar, tak peduli kepercayaan apapun yang dianutnya, mempunyai harapan yang sama untuk memperoleh kebahagiaan di kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang. Sebaliknya, siapapun yang menganut ajaran Buddha tetapi tidak mempraktikkannya, hanya akan memperoleh sedikit harapan akan pembebasan dan kebahagiaan.

Dalam ajaran Buddha, setiap orang memiliki hak yang sama untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Dengan kata lain, setiap orang dapat mencapai Kebuddhaan.

7. Ajaran Buddha mengajarkan hukum sebab dan akibat

Buddha mengajarkan bahwa segala sesuatu muncul dari suatu sebab. Tiada suatu apapun yang muncul tanpa alasan.

Kebodohan, ketamakan, keuntungan, kedudukan, pujian, kegembiraan, kerugian, penghinaan, celaan, penderitaan –semua adalah akibat dari keadaan-keadaan yang memiliki sebab.

Akibat-akibat baik muncul dari keadaan-keadaan yang baik, dan akibat buruk muncul dari penyebab-penyebab buruk pula. Kita sendiri yang menyebabkan keberuntungan dan ketidakberuntungan kita sendiri. Tidak ada Tuhan atau siapapun yang dapat melakukannya untuk kita. Oleh karena itu, kita harus mencari keberuntungan kita sendiri, bukan membuang-buang waktu menunggu orang lain melakukannya untuk kita. Jika seseorang mengharapkan kebaikan, maka dia hanya akan berbuat kebaikan dan berusaha menghindari pikiran dan perbuatan jahat.

Prinsip-prinsip sebab dan akibat; suatu kondisi yang pada mulanya sebagai akibat akan menjadi sebab dari kondisi yang lain, dan seterusnya seperti mata rantai. Prinsip ini sejalan dengan pengetahuan modern yang membuat ajaran Buddha tidak ketinggalan zaman daripada kepercayaan-kepercayaan lain di dunia.

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=352944941010&id=315488630071

Kamis, 09 Desember 2010

Otak Manusia Siapa yang Paling Bahagia di Dunia?

Otak Manusia Siapa yang Paling Bahagia di Dunia?

Nurul Ulfah - detikHealth


Matthieu Ricard


Wisconsin, Adakah orang yang paling bahagia di dunia di tengah tumpukan masalah hidup yang melilit? Ternyata peneliti menemukan otak manusia paling langka yang berisi gelombang gamma, yakni gelombang yang diduga sebagai penentu kebahagiaan seseorang.

Gelombang gamma sangat jarang ditemukan pada manusia. Tapi otak seorang biksu berkebangsaan Perancis yang tinggal di daratan Himalaya diketahui penuh dengan gelombang gamma. Hal itu membuatnya dijuluki manusia paling bahagia di dunia.

Biksu tersebut bernama Matthieu Ricard. Menurut Ricard, kunci kebahagiaan terletak pada kekuatan mental. Sebagai penganut ajaran dan teori agama Budha, ia percaya bahwa kebahagiaan akan diperoleh jika fokus pada kekuatan diri sendiri. Teknik meditasi dan sikap mementingkan kepentingan orang lain adalah kuncinya.

Ricard menyebutkan ada tujuh aspek yang mempengaruhi kebahagiaan dalam hidup seseorang, diantaranya keluarga, pekerjaan, kesehatan dan sikap mental. Semua aspek itu tergabung dan terperangkap dalam pikiran. Untuk itu, apapun yang terjadi dalam hidup, semuanya harus dikembalikan pada pikiran yang tenang.

"Jika seseorang bisa menenangkan pikiran, masalah apapun yang ada dalam hidup akan terasa baik-baik saja," kata Ricard seperti dikutip dari Timesonline, Selasa (9/2/2010). Demi menghasilkan pikiran yang fokus dan tenang, Ricard sengaja untuk tidak menikah, tidak mempunyai anak atau berkarir.

Teori memfokuskan dan menenangkan pikiran yang diterapkan Ricard ternyata diakui oleh para pakar otak. Berdasarkan hasil scan otak yang dilakukan peneliti dari University of Wisconsin terhadap Ricard, diketahui bahwa bagian abu-abu pada otaknya menghasilkan gelombang gamma.

Gelombang gamma adalah gelombang yang menentukan tingkat kesadaran, ingatan, pembelajaran dan lainnya. Dalam sejarah dan literatur neuroscience, gelombang gamma belum pernah ditemukan sebelumnya pada otak manusia. Gelombang gamma inilah yang mempengaruhi tingkat ketenangan dan kebahagiaan seseorang.

Peneliti tidak hanya memeriksa otak Ricard, tapi juga faktor lainnya seperti gerakan otot muka, kemampuan mempertahankan ketenangan dan sebagainya. Semua faktor itu jika digabungkan akan menghasilkan kesehatan otak yang optimal.

Meski Ricard diduga sebagai manusia paling bahagia di dunia, ia tidak pernah mengajak apalagi memaksa orang lain untuk masuk dan menganut agamanya. Pakar saraf dan otak pun hanya menyarankan agar orang-orang mengikuti teknik yang diterapkan Ricard jika ingin hidup tentram dan bahagia.

Beberapa teknik yang dianjurkan Ricard diantaranya yaitu meditasi, mendahulukan kepentingan orang lain dan melatih pikiran bawah sadar.

Tak jauh berbeda dengan Ricard, seorang pengarang buku 'Happiness: Lessons from a New Science', Lord Layard pun mengatakan bahwa rumus bahagia adalah bersosialisasi, membuat koneksi, bergerak secara aktif, terus belajar dan biasakan memberi sesuatu untuk orang lain.

Menurut Layard yang juga merupakan pakar ekonomi Inggris, pemerintah perlu merancang program pembangunan pola hidup yang tepat untuk meningkatkan rasa bahagia.

"Kebanyakan dana dialokasikan pemerintah untuk mengurangi kemisikinan atau penyakit. Seharusnya pemerintah juga perlu mengalokasikan dana lebih untuk pelayanan kesehatan mental, dukungan orangtua dan edukasi yang positif," kata Layard. (fah/ir)



Sumber :
http://health.detik.com/read/2010/02/09/160046/1296057/766/otak-manusia-siapa-yang-paling-bahagia-di-dunia

Rabu, 08 Desember 2010

Keanu Reeves Mengenal Dharma





Keanu Reeves Mengenal Dharma



Keanu Reeves, terkenal dalam perannya sebagai Pangeran Siddharta
dalam film Little Buddha dan sebagai pemeran utama dalam trilogi Matrix,
baru-baru ini telah membintangi Constantine, film terkenal lainnya dengan
tema keagamaan. Sebagai pendukung agama Buddha yang setia,
dia memberikan kata pendahuluan, saling bergantian dengan Richard Gere,
dalam setiap dari tiga belas seri Discovering Buddhism at Home Series
yang berdurasi 30 menit yang diterbitkan oleh
Foundation for the Preservation of the Mahayana Tradition (FPMT).
Dalam wawancara oleh Stephen Hamel ini, Keanu berbicara
tentang perannya dalam film The Little Buddha,
apa yang membuat dia tertarik pada agama Buddha,
kegemarannya pada buku-buku karangan Dalai Lama,
dan bagaimana agama Buddha memberinya
suatu arti kehidupan yang baru.



Bagaimana Anda bisa terlibat dengan Bernardo Bertolucci dan film The Little Buddha?


Bernardo menonton My Own Private Idaho dan dia melihat saya di sana. Dulu saya tidak tahu apapun tentang agama Buddha. Ketika saya masih kecil, ibu saya mempunyai hasil kerajinan dari negeri China, jadi bagi saya Buddha adalah orang gemuk yang sedang tersenyum ini. Saya berasal dari keluarga yang bukan Kristen. Ibu saya orang Inggris dan tidak tertarik dengan gereja, tidak terlalu peduli akan hal keagamaan. Dalam hidup saya, saya telah mencari dan tertanya-tanya tentang Tuhan. Saya bergabung dengan perhimpunan Alkitab sebentar ketika masih berumur 11 tahun tetapi rupanya membosankan.
Kami bertemu di sebuah hotel di kota New York dan Bernardo menceritakan kisah dari naskah ini kepada saya.


Dia bercerita tentang lama dari Tibet yang dia jumpai dan bagaimana dia juga dulunya berasal dari keluarga yang tidak beragama, yang tidak memiliki kepercayaan, seperti saya. Tapi ketika dia bertemu para lama ini, mereka seakanakan "mempengaruhi" dia begitu saja. Dan sewaktu dia bercerita, saya mulai menangis, dan menyadari bahwa saya ingin sekali berada di sana.

Ketika Anda syuting untuk film Much Ado About Nothing di Italia, Anda bertemu dengan aktor Brian Blessed, dan dia membantu Anda dalam persiapan untuk film The Little Buddha.


Ada sesuatu tentang Brian Blessed yang membuat saya berpikir bahwa dia ada bermeditasi. Dia seorang aktor, dia mendaki Gunung Everest, dan ada sesuatu tentang dia yang membuat saya ingin bertanya kepadanya tentang Dharma (kebenaran). Jadi saya bertanya kepadanya apakah dia sudi meluangkan sedikit waktu untuk mengajarkan meditasi kepada saya. Saya harus membuktikan kepadanya bahwa saya ingin belajar. Dia mengajarkan saya meditasi yang sangat sederhana dan mendasar. Inilah awal perkenalan saya pada banyak pengalaman lain, pada suatu pesona yang menarik saya.
Selama 3 bulan saya terlibat dalam film ini, saya telah mendapatkan banyak contoh berjumpa dengan umat Buddha tanpa disengaja. Dalam perjalanan ke Florence untuk menemui saudara perempuan saya, saya memberi tumpangan untuk seseorang di jalan dan tiba-tiba saja saya bisa bertanya, "Apakah Anda seorang Buddhis?" Dan ya, dia bilang dia seorang umat Buddha! Hal ini sering kali terjadi.

Kapan Anda mulai terpikat secara mendalam dengan agama Buddha? Pada kunjungan pertama Anda ke Nepal?

Saya mulai merninta dikirimkan buku-buku Dharma kepada saya ketika saya syuting film Much Ado About Nothing, dan mulai membaca, melatih sikap tubuh dan duduk bermeditasi. Hal pertama yang saya pelajari adalah Empat Kebenaran Mulia: penderitaan, penyebab penderitaan, akhir dari penderitaan, dan jalan menuju akhir dari penderitaan. Umat Buddha percaya akan tidak adanya 'diri'. Sang 'aku', yang kita sebut 'ego' di Barat, tidaklah ada.
Ketika saya di Nepal untuk membuat kostum, saya bertemu dengan seorang "guru", seorang Rinpoche (ahli dalam agama Buddha), yang bekerja bersama Bernardo. Saya mendapatkan beberapa sesi pelatihan diri darinya. Beliau mengajarkan serangkaian meditasi dan beliau berkata kepada saya bahwa untuk dasarnya fokuskan pada pemahaman tentang konsep 'diri'. Beliau memberitahukan saya untuk menerima keadaan tersebut, kemudian lanjutkan ke hal-hal yang lebih rumit, dan pada dasarnya adalah mengenai belaskasih dan kebijaksanaandan Anda akan memperoleh kebahagiaan yang sebenarnya!
Kemudian saya mulai melakukannya bersama Rinpoche yang mengajarkan saya bagaimana menangani konsep tentang diri. Saya juga mempelajari banyak kebiasaan dalam Buddhis darinya.Tetapi Rinpoche juga berpesan pada saya untuk tidak menerima begitu saja apa yang telah dia katakan hanya dengan berdasarkan keyakinan! "Rasakan, kunyah, dan uji terlebih dahulu kebenarannya seperti tukang emas menguji keaslian emasnya". Saya rasa itulah kekuatan agama Buddha. Agama Buddha tidak menarik-narik orang lain untuk menjadi pengikutnya begitu saja. Seorang umat Buddha tidak akan memintamu mengucapkan I4 Doa kepada Bunda Maria sebelum mereka memberimu makanan. Agama Buddha bukanlah mengenai hal-hal seperti demikian. Hal utama yang telah membuat saya tertarik dengan agama Buddha adalah bahwa umat Buddha menaruh perhatian terhadap kebenaran. Inti dalam agama Buddha adalah cintakasih dan belaskasih dan kebaikan serta kebahagiaan bagi semua makhluk.

Anda jelas sekali sangat terpengaruh oleh ajaran Buddha. Inginkah Anda menjadi bhikkhu?
Tidak, tetapi ada sesuatu dalam diri saya menginginkannya. Ada bagian dari diri saya yang sedang mencari penegasan untuk melakukannya. Saat ini saya sedang bersungguh-sungguh dalam Buddhisme. Saya akan terus berlatih dan mempelajari agama Buddha.

Bagaimana pengaruh agama Buddha terhadap kehidupan Anda sebagai seorang aktor?
Saya telah dilatih menjadi seorang aktor selama 10 tahun: melihat diri saya, bertanya mengapa saya merasakan sesuatu hal, apa yang saya rasakan sekarang, mempelajari berbagai ekspresi fisik, dan mencoba mempelajari aspek emosi dan kecerdasan dalam setiap hubungan dengan orang lain. Dan ini telah membantu saya. Agama Buddha mengandung unsur pengobatan dalam beberapa hal dan saya telah sedang melatih pikiran saya.

Adegan pertama yang Anda mainkan dalam film tersebut adalah pencapaian penerangan sempurna oleh Siddhartha. Bagaimana Anda persiapan Anda?
Saya hanya mencoba memberi diri saya ketenangan dan ruang tanpa batas. Bernardo mempunyai sebuah gambar yang menarik dari sebuah buku tentang ekspresi muka. Saya hanya mencoba dan berusaha memahami makna gambar tersebut dan membayangkannya.

Bagaimana tentang diet ketat yang Anda harus lakukan ketika Anda melakukan adegan Siddharta yang telanjang dan membiarkan dirinya kelaparan di dalam hutan?
Anda dan saya tahu bahwa saya suka makan! Makan adalah salah satu hal paling menyenangkan dalam kehidupan! Tetapi dalam beberapa minggu itu kami melakukan adegan menahan nafsu tersebut, jadi saya puasa; saya hanya makan sebuah jeruk dan 10 liter air dalam satu hari!
Siddharta mencari pembebasan dari usia tua, penderitaan, dan kematian. Beliau sedang berusaha menaklukkan tubuh jasmani-Nya, menaklukkan nafsu-Nya, kemelekatan-Nya, dan Beliau sedang menguji diri-Nya. Beliau berpikir, "Jika Saya dapat menaklukkan nafsu Saya, Saya akan terbebas."

Bagaimana gambaran secara keseluruhan dari film tersebut?
Kami membuat penggambaran tentang Pangeran Siddharta dengan nuansa penuh arti moral, menyentuh, dan penuh belaskasih. Ini merupakan pendapat saya.

Bagaimana reaksi umat Buddha tentang film ini?
Saya tidak tahu. Saya belum menonton film tersebut. Pada awalnya sutradara Satyajit Ray yang berkebangsaan India menolak ide pembuatan film yang berkisah tentang Sang Buddha.Tentunya pasti ada orang lain yang berpikiran seperti itu juga. Film ini bukan berkisah tentang Sang Buddha. Ini merupakan penggambaran tentang Pangeran Siddharta dan kehidupannya. Bernardo telah sangat berhati-hati mengenai tanggungjawabnya. Tradisi, ritual, dan praktek yang digambarkan dalam film tersebut sangatlah teliti, dan pengajaran tentang Dharma di dalamnya cukup kompleks, berharga, dan mendalam, dan mudah-mudahan hal itu akan berguna.

Ada komentar lebih lanjut lagi?
Anda harus membaca buku-buku karangan Yang Mulia Dalai Lama, atau mendengarkannya. Beliau sangat mengesankan. Ada juga buku ini yang sedang saya baca baru-baru ini berjudul Kindness, Clarity and Insight (Kebaikan, Pencerahan dan Pandangan Terang). Jika ada yang ingin merasakan sedikit tentang hal-hal ini kebaikan, pencerahan dan pandangan terang (pemahaman yang benar) mereka harus membacanya.



Sumber: "The Sound Issue", April 1993i-D magazine (UK)

Sumber: How to Develop Happiness in Daily Living
Penerbit : Bodhi Buddhist Centre Indonesia, Medan