Senin, 18 April 2011

Meditasi Mempertebal Permukaan Otak


Meditasi Mempertebal Permukaan Otak

Meditasi Mempertebal Permukaan Otak

Jakarta, Kompas, Senin, 14 Nov. 2005


Para ilmuwan telah mengetahui bahwa meditasi mungkin membuat bentuk otak cenderung permanen. Tapi, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bagian-bagian penting otak justru semakin tebal jika seseorang menjalankan aktivitas ini.


Pemindaian terhadap otak beberapa orang yang melakukan meditasi secara rutin memperlihatkan adanya perubahan ketebalan di bagian cortex (permukaan) yang berhubungan dengan penginderaan, pengenalan suara dan gambar, termasuk persepsi internal, misalnya pemantauan detak jantung atau napas.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa meditasi yang dilakukan secara rutin mungkin juga memperlambat penipisan cortex bagian depan yang dipengaruhi umur.

"Yang paling mengejutkan saya, latihan meditasi ternyata dapat mengubah bagian abu-abu pada otak," kata anggota tim peneliti Jeremy Gray, seorang asisten profesor psikologi di Yale.

Bagian otak yang sering ditemukan berubah karena aktivitas meditasi umumnya adalah daerah belahan kanan. Wilayah ini terutama memainkan peranan penting dalam proses perhatian yang berkesinambungan. Sementara, perhatian adalah salah satu fokus dari meditasi.

Para peneliti menduga bentuk lain dari yoga dan meditasi memiliki pengaruh yang mirip terhadap struktur otak. Tapi, setiap bentuk aktivitas tentu memberikan perubahan pada bagian cortex yang sedikit
berbeda, tergantung latihan mental yang dialaminya.

Subjek yang diteliti adalah orang-orang yang memiliki pekerjaan dan keluarga. Mereka hanya bermeditasi rata-rata 40 menit setiap hari dan tidak harus menjadi rahib. Penelitian hanya melibatkan 20 orang yang seluruhnya memperoleh pelatihan cara meditasi Buddha secara intensif. Meskipun demikian, para peneliti menyatakan bahwa hasilnya dapat dipercaya.

Penelitian ini dipimpin oleh Sara Lazar, asisten psikologi dari Massachusetts General Hospital. Hasil penelitiannya sendiri dijelaskan dalam jurnal NeuroReport edisi November.


Sumber: LiveScience.com < http://www.livescience.com/ >
Penulis: Wah

Dikutip dari:

Senin, 11 April 2011

Penelitian Menemukan: MEDITASI MEMBERIKAN PENYEGARAN PADA OTAK

Penelitian Menemukan: MEDITASI MEMBERIKAN PENYEGARAN PADA OTAK



Penelitian Menemukan:
MEDITASI MEMBERIKAN PENYEGARAN PADA OTAK


oleh Oleh Marc Kaufman
Staff Penulis di Washington Post
3 Januari 2005

Washington, Amerika Serikat – Penelitian tentang otak manusia dimulai untuk menghasilkan bukti nyata tentang meditasi yang telah dilakukan berabad-abad oleh para praktisi Buddhis: Disiplin Mental dan praktek meditasi bisa mengubah cara kerja otak dan membuat orang bisa mencapai tingkat kewaspadaan yang berbeda.

Keadaan perubahan tersebut secara tradisional telah dimengerti sebagai sesuatu di luar ukuran dunia fisik dan evaluasi obyek. Tapi beberapa tahun belakangan ini, para peneliti di Universitas Wisconsin bekerja sama dengan para bhikkhu Tibet telah berhasil menerjemahkan pengalaman-pengalaman mental tersebut ke dalam bahasa ilmu pengetahuan tentang frekuensi tinggi gelombang Gamma dan keseimbangan otak, atau koordinasi di antaranya. Dan mereka telah menunjukkan dengan tepat bahwa korteks prefrontal kiri yang letaknya tepat di belakang dahi sebelah kiri, adalah tempat dimana terjadi aktivitas otak yang hebat pada saat dihubungkan dengan meditasi.

”Apa yang kami temukan pada orang yang telah lama melakukan praktek meditasi memperlihatkan skala pergerakan otak yang belum pernah kami lihat sebelumnya”, kata Richard Davidson, seorang ahli ilmu otak di Laboratorium W.M. Keck yang baru di Universitas Wisconsin bernilai 10 juta dollar untuk meneliti Fungsi Imajinasi Otak dan Tingkah Laku. “Praktek mental mereka berpengaruh pada otak sama seperti pada latihan golf dan tenis yang akan mempertinggi daya guna otak”. Dia berkata, hal tersebut menunjukkan bahwa otak mampu untuk dilatih dan secara fisik dapat diubah sedemikian rupa seperti yang dapat dibayangkan oleh beberapa orang.

Para ilmuwan dulu percaya kebalikannya – bahwa hubungan-hubungan antar sel urat otak telah terbentuk sejak awal kehidupan dan tidak berubah pada masa kanak-kanak. Tetapi asumsi tersebut tidak terbukti selama 10 tahun yang lalu dengan bantuan imajinasi otak tingkat tinggi dan tehnik-tehnik lainnya, dan dalam tempatnya, para ilmuwan telah merangkum konsep pengembangan otak yang terus menerus dan "neuroplasticity”.

Davidson mengatakan bahwa hasil terbaru dari studi meditasinya yang dipublikasikan di “Cara Kerja Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional” di bulan November, mengambil konsep neuroplasticity satu langkah lebih jauh dengan memperlihatkan bahwa latihan mental via meditasi (dan barangkali cara lainnya) dapat dengan sendirinya mengubah cara kerja di bagian dalam dan di sekeliling otak.

Penemuan-penemuan baru tersebut adalah hasil kolaborasi lama, bila tidak mungkin, antara Davidson dan Dalai Lama Tibet, praktisi Buddhisme terkenal di dunia. Dalai Lama pertama kali mengundang Davidson ke tempat tinggalnya di Dharamsala, India pada tahun 1992 setelah mempelajari riset penemuan Davidson tentang emosi-emosi dari ilmu pengetahuan otak. Orang-orang Tibet mempunyai tradisi meditasi intensif yang telah berabad-abad lamanya dan, sejak mula, Dalai Lama telah tertarik untuk mengajak David dari segi ilmu pengetahuan menggali cara kerja pikiran meditasi dari para bhikkhunya. Dua tahun yang lalu, Dalai Lama menghabiskan dua hari untuk mengunjungi Laboratorium Davidson.

Pada akhirnya Dalai Lama mengirimkan delapan praktisi meditasinya yang ulung ke Laboratorium Davidson untuk dilakukan tes Electroencephalograph (EEG) dan scanning otak pada mereka.

Para praktisi Buddhis dalam eksperimen ini telah melalui latihan meditasi tradisional di Tibet Nyingmapa dan Kagyupa selama kira-kira 10.000 sampai 50.000 jam dalam waktu 15 sampai 40 tahun. Sebagai bahan perbandingan, 10 sukarelawan pelajar yang tidak mempunyai pengalaman meditasi sebelumnya juga di tes setelah mereka latihan meditasi selama 1 minggu.

Pada para bhikkhu dan sukarelawan dipasang sensor listrik sebanyak 256 buah dan diminta untuk bermeditasi dalam jangka waktu pendek. Berpikir dan aktivitas mental lainnya dikenal dapat memproduksi sedikit, tapi dapat dideteksi, aktivitas ledakan-ledakan listrik sebagai sekelompok besar syaraf yang mengirimkan pesan satu sama lain dan di situlah sensor-sensor tersebut diketahui. Davidson sangat berminat terutama dalam mengukur gelombang Gamma, beberapa dari frekuensi tertinggi dan yang paling penting gerak listrik pada otak.

Para bhikkhu dan sukarelawan diminta untuk bermeditasi, secara spesifik pada perasaan haru yang tidak terbatas. Ajaran Buddhis menjelaskan keadaan tersebut sebagai “kesiapan yang bebas dan kemampuan untuk membantu makhluk hidup”, yang mana hal tersebut ada di dalam intisari ajaran Dalai Lama. Para peneliti memilih pemusatan tersebut karena tidak perlu berkonsentrasi pada obyek tertentu, kenangan tertentu atau gambar tertentu dan mengolahnya, bukan merubah bentuk/ keadaan yang sudah ada.

Davidson mengatakan bahwa hasilnya jelas memperlihatkan bahwa meditasi mengaktifkan otak para bhikkhu yang telah terlatih dengan cara yang sangat berbeda dari para sukarelawan. Yang paling penting, gelombang elektroda menangkap pergerakan cepat-pindah yang lebih besar dan gelombang Gamma yang sangat kuat pada para bhikkhu, dan ditemukan pergerakan gelombang melalui otak jauh lebih teratur dan terkoordinasi daripada para pelajar. Pada orang yang baru belajar meditasi menunjukkan hanya sedikit aktivitas gelombang Gamma yang meningkat pada saat bermeditasi, tapi pada beberapa bhikkhu, otaknya memproduksi aktivitas gelombang Gamma yang jauh lebih kuat daripada yang pernah diberitakan sebelumnya pada orang yang sehat, kata Davidson.

Dia menambahkan, pada para Bhikkhu yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk bermeditasi, mempunyai tingkat gelombang Gamma tertinggi. “Dosis respon” ini – dimana obat atau aktivitas tingkat tinggi berpengaruh jauh lebih besar daripada di tingkat yang lebih rendah – adalah apa yang dicari oleh para peneliti untuk memperkirakan sebab dan pengaruhnya.

Dalam studi-studi sebelumnya, aktivitas mental seperti pemusatan pikiran, ingatan, belajar, kesadaran dihubungkan dengan semacam koordinasi syaraf yang meningkat ditemukan pada para bhikkhu. Gelombang Gamma yang kuat pada para bhikkhu juga dihubungkan dengan pekerjaan merajut, tidak sama dengan sirkuit otak, dan juga dihubungkan dengan aktivitas mental yang lebih tinggi dan juga meningkatkan kesadaran.

Penelitian Davidson konsisten dengan hasil kerja Davidson sebelumnya yang menunjukkan dengan tepat korteks prefrontal kiri dari bagian otak yang berhubungan dengan kebahagiaan, pemikiran-pemikiran positif dan perasaan-perasaan. Dengan menggunakan Fungsi Magnetic Resonansi Imajinasi (FMRI/ Functional Magnetic Resonance Imagining) pada bhikkhu yang sedang bermeditasi, Davidson menemukan bahwa aktivitas otak mereka – yang diukur dengan EEG – tinggi terutama di area ini.

Kesimpulan Davidson dari penelitian ini bahwa meditasi tidak hanya mengubah cara kerja otak dalam jangka pendek, tapi juga kemungkinan dapat memproduksi perubahan-perubahan secara permanen. Kata Davidson, penemuan itu didasarkan pada fakta bahwa para bhikkhu mempunyai lebih banyak aktivitas gelombang Gamma daripada para pelajar sukarelawan bahkan sebelum mereka mulai bermeditasi. Seorang peneliti di Universitas Massachussets, Jon Kabat-Zinn, juga telah menyimpulkan hal yang serupa beberapa tahun yang lalu.

Para peneliti di Universitas Harvard dan Princeton saat ini sedang melakukan percobaan pada beberapa bhikkhu yang sama dalam beberapa aspek yang berbeda dari praktek meditasi mereka: kemampuan mereka untuk memvisualisasikan gambar-gambar dan kendali dari pikiran mereka. Davidson juga berencana melakukan penelitian lebih lanjut.

“Apa yang kami temukan adalah pikiran atau otak yang terlatih, yang secara fisik berbeda dari otak atau pikiran yang belum terlatih” katanya. Pada saatnya “kami akan mendapatkan pengertian yang lebih baik tentang pentingnya potensial pelatihan mental semacam ini dan meningkatkan kemungkinan bahwa hal ini akan dilakukan dengan lebih serius”.

Sumber : Meditation Gives Brain a Charge, Study Finds

Diterjemahkan oleh : Lena Handjaja, Jakarta
Editor : Bhikkhu Uttamo

Sumber: http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/meditasi-memberikan-penyegaran-pada-otak/

Sumber English: http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/articles/A43006-2005Jan2.html

Senin, 04 April 2011

Penelitian Menemukan: Meditasi Memberikan Energi pada Otak

Penelitian Menemukan :
Meditasi Memberikan Energi pada Otak


Oleh Marc Kaufman
Staff Penulis 'Washington Post'
Senin, 3 Januari 3, 2005; Halaman A05

Penelitian bidang otak mulai menghasilkan bukti nyata atas meditasi. Bukti ini yang dipertahankan oleh para praktisi meditasi Buddhis selama berabad-abad bahwa latihan mental dan praktek meditasi dapat mengubah kerja otak dan membuat orang mencapai tingkat-tingkat kesadaran yang berbeda.

Kondisi-kondisi yang berubah tersebut secara tradisi telah dimengerti dalam istilah-istilah luar biasa, seperti sesuatu di luar pengukuran dunia materi dan penilaian objektif. Tetapi selama beberapa tahun ini, para peneliti di Universitas Wisconsin bekerja sama dengan para bhikkhu Tibet telah dapat menerjemahkan pengalaman-pengalaman mental tersebut menjadi bahasa ilmiah berupa gelombang-gelombang gamma tinggi dan sinkroni atau koordinasi otak. Selanjutnya mereka telah menemukan sasaran tepat di bagian otak depan kiri, daerah tepat di belakang dahi kiri, sebagai daerah dimana aktivitas otak yang terutama berhubungan erat dengan meditasi

“Apa yang kita temukan adalah para praktisi yang telah lama berlatih menunjukkan pergerakan otak dalam skala yang belum pernah kita lihat sebelumnya.” Kata Richard Davidson, seorang ahli ilmu pengetahuan syaraf di laboratorium untuk pencitraan fungsi serta perilaku otak. Laboratorium baru senilai $ 10 juta milik univeresitas ini dinamakan W.M Nick. “Praktek mental mereka mempunyai pengaruh terhadap otak sama seperti praktisi golf atau tennis yang akan membantu kemampuan bertanding / bermain.” Ia berkata, hal ini juga menunjukkan bahwa otak mampu dilatih dan secara fisik dapat dirubah dengan cara-cara yang dapat dibayangkan oleh sedikit orang.

Para ilmuwan terbiasa percaya pada hal sebaliknya – bahwa sambungan-sambungan di antara sel-sel syaraf otak sudah ditetapkan di awal kehidupan dan tidak dapat diubah saat dewasa. Tetapi asumsi tersebut berhasil ditolak selama puluhan tahun ini dengan bantuan pencitraan otak dan teknik-teknik maju lainnya. Dan sesuai dengan kemajuan tersebut, para ilmuwan telah merangkul konsep tentang perkembangan otak yang tiada henti serta“syaraf yang mudah dibentuk”

Davidson mengatakan hasil-hasil terbarunya dari penelitian meditasi yang diterbitkan di Notulen rapat the National Academy of Sciences pada bulan Nopember membawa konsep “syaraf yang mudah dibentuk” selangkah lebih maju lagi dengan menunjukkan bahwa pelatihan mental melalui meditasi ( dan kemungkinan praktek-praktek lainnya) dengan sendirinya dapat mengubah kerja dalam otak dan aliran-aliran otak.

Penemuan-penemuan baru tersebut adalah hasil kerjasama yang lama antara Davidson dan Dalai Lama Tibet, Praktisi Buddhisme terkenal di dunia. Dalai Lama pertama kali mengundang Davidson ke kota kediamannya di Dharamsala, India di 1992 setelah beliau mengetahui tentang penelitian pembaharuan Davidson dalam ilmu pengetahuan syaraf tentang emosi-emosi. Rakyat Tibet mempunyai sebuah tradisi kuno berabad-abad untuk melakukan meditasi intensif dan sejak awal Dalai Lama mempunyai minat agar Davidson dapat melakukan penyelidikan secara ilmiah tentang cara kerja pikiran-pikiran para bhikkhu yang sedang bermeditasi. Tiga tahun yang lalu, Dalai Lama menghabiskan dua hari mengunjungi laboratorium Davidson.

Dalai Lama akhirnya mengutus delapan praktisi meditasi yang paling terampil ke laboratorium Davidson agar mereka dipasangkan / dihubungkan dengan pengujian electroencephalograph (EEG) dan pencitraan otak. Para praktisi meditasi Buddhis dalam percobaan telah melakukan latihan meditasi dengan tradisi Tibet Nyingmapa dan Kagyuga kira-kira selama 10,000 sampai 50,000 jam, selama 15 sampai 40 tahun. Sebagai pengontrol, 10 orang murid sukarelawan yang tidak pernah melakukan meditasi juga diuji setelah satu minggu pelatihan.

Para bhikkhu dan sukarelawan dipasangkan dengan sebuah jaring dengan 256 sensor elektrik dan diminta bermeditasi dalam jangka waktu pendek. Berpikir dan aktivitas-aktivitas mental lainnya diketahui menghasilkan sedikit (tetapi dapat ditemukan) ledakan-ledakan aktivitas elektrik saat sekelompok besar neuron saling mengirim pesan-pesan, dan itulah apa yang dibaca oleh sensor-sensor. Davidson terutama berminat mengukur gelombang-gelombang gamma, gelombang-gelombang elektrik otak yang paling sering dan paling penting.

Kedua grup diminta bermeditasi, terutama meditasi cinta kasih tanpa batas. Ajaran Buddhis menjelaskan kondisi tersebut sebagai “kesiapan tak terbatas dan kesediaan untuk menolong para makhluk hidup” dimana kondisi tersebut adalah inti dari ajaran Dalai Lama. Para peneliti memilih fokus tersebut karena hal itu tidak memerlukan konsentrasi pada objek-objek, ingatan-ingatan atau gambar-gambar tertentu dan memelihara kondisi pikiran tanpa harus mengubahnya.

Davidson mengatakan hasil-hasil menunjukkan dengan jelas bahwa meditasi menggerakkan pikiran-pikiran terlatih para bhikkhu dengan cara yang jelas-jelas berbeda daripada mereka para relawan. Yang paling penting, elektroda-elektroda membaca pergerakan cepat yang jauh lebih besar dan gelombang-gelombang gamma yang sangat kuat pada para bhikkhu dan menemukan bahwa pergerakan gelombang-gelombang melalui otak jauh lebih terorganisir dan terkoordinir daripada yang terjadi pada para murid. Murid yang tidak berpengalaman hanya menunjukkan sedikit kenaikan aktivitas gelombang gamma saat bermeditasi, tetapi beberapa bhikkhu menghasilkan aktivitas gelombang lebih kuat daripada orang-orang sehat yang pernah dilaporkan sebelumnya, kata Davidson.

Bhikkhu-bhikkhu yang telah berlatih meditasi paling lama mempunyai tingkat gelombang gamma paling tinggi. Ia menambahkan. “reaksi dosis” ini – dimana tingkat-tingkat suatu obat atau aktivitas lebih tinggi mempunyai pengaruh lebih besar daripada tingkat-tingkat lebih rendah – adalah apa yang dicari oleh para peneliti untuk menilai sebab dan akibat.

Pada penelitian-penelitian sebelumnya, aktivitas-aktivitas mental seperti memusatkan pikiran, ingatan, belajar dan kesadaran dihubungkan dengan agak bertambahnya koordinasi syaraf yang ditemukan pada para bhikkhu. Gelombang-gelombang gamma kuat yang ditemukan pada para bhikkhu juga telah dihubungkan dengan saling bersambungnya aliran-aliran otak yang berbeda, selanjutnya juga berhubungan dengan aktivitas mental lebih tinggi dan juga kesadaran lebih tinggi.

Penelitian Davidson sesuai dengan penelitian awalnya yang berfokus pada daerah otak depan kiri sebagai daerah otak yang berhubungan dengan kebahagiaan dan pikiran-pikiran serta emosi-emosi positif. Pemakaian pencitraan functional magnetic resonance (fMRI) pada para bhikkhu yang sedang bermeditasi, Davidson menemukan bahwa aktivitas otak mereka – seperti yang diukur dengan EEG – terutama tinggi di daerah ini.

Davidson menyimpulkan dari penelitian bahwa meditasi tidak hanya mengubah kerja otak dalam waktu pendek, tetapi juga cukup berkemungkinan menghasilkan perubahan-perubahan permanen. Ia berkata penemuan itu berdasarkan fakta bahwa para bhikkhu mempunyai aktivitas gelombang gamma jauh lebih banyak daripada grup yang dikontrol bahkan sebelum mereka mulai bermeditasi. Seorang peneliti di Universitas Massachussetts, Jon Kabat-Zinn, mendapatkan kesimpulan yang serupa beberapa tahun yang lalu.

Saat ini para peneliti di Harvard dan Princeton sedang menguji beberapa orang bhikkhu yang sama tadi dalam segi-segi berbeda pada praktek meditasi mengenai kemampuan mereka untuk membayangkan gambaran-gambaran serta mengendalikan pikiran mereka. Davidson juga berencana melakukan penelitian lebih lanjut.

Ia berkata, “Apa yang kita temukan adalah pikiran atau otak yang terlatih secara fisik berbeda daripada yang tidak terlatih.”. Pada waktunya,“Kita akan dapat mengerti lebih baik kemungkinan pentingnya pelatihan mental demikian serta meningkatkan kemungkinan bahwa latihan ini akan dipelajari dengan serius.”

Terjemahan: Jenny H, Sby
Editor : Bhikkhu Uttamo

Sumber:http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/meditasi-memberikan-energi-pada-otak/

English: http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/articles/A43006-2005Jan2.html

Senin, 28 Maret 2011

Steven Seagal: "Hidup Bukanlah mengenai Apa yang Terbaik atau yang Terburuk!"

Hidup Bukanlah mengenai Apa yang Terbaik atau yang Terburuk! 

by Steven Seagal


Hidup Bukanlah mengenai Apa yang Terbaik
atau yang Terburuk!
Steven Seagal


Dalam sebuah wawancara dengan penulis naskah Stanley Weiser, ahli seni bela diri dan bintang film aksi Steven Seagal berbicara tentang praktek Buddhisnya selama bertahun-tahun dan guru gurunya:

Apakah Anda mengenal ajaran Buddha sewaktu Anda belajar bela diri?
Jujur saja, saya sendiri juga tidak pasti. Saya terlahir dengan kesadaran spiritual yang dalam dan selama bertahun-tahun saya mempelajari berbagai aliran. Saya pergi ke Jepang pada akhir tahun 60-an dan mulai belajar Zen. Saya mengunjungi biara-biara, belajar tentang agama Buddha dan menerima petunjuk-petunjuk spiritual. Ini merupakan awal bagi saya, jalan yang saya percayai sebagaimana seharusnya pengembangan fisik manusia melalui seni bela diri dan memoles sisi spiritual secara bersamaan.

Anda juga belajar akupuntur?
Benar. Di sanalah saya pada mulanya diperkenalkan pada Buddhisme Tibet. Ada beberapa lama yang datang dari Tibet. Mereka menderita sakit dan telah disiksa. Karena saya belajar akupuntur, saya diminta untuk mencoba menolong beberapa dari mereka, walaupun saya tidak dapat berbahasa Tibet. Kami pada akhirnya dapat berkomunikasi. Saya belajar sedikit bahasa Tibet dan menjadi sangat dekat dengan mereka.

Siapa guru utama Anda?
Pada dasarnya, bagi saya Yang Mulia Dilgo Khyentse Rinpoche adalah yang paling berpengaruh, dan sekarang saya sangat dekat dengan Minling Trichen dan Yang Mulia Penor Rinpoche.

Apakah Anda mempunyai ingatan tentang kehidupan Anda yang lampau?
Sejak pertama kali saya pergi ke India dan bermeditasi, saya ada memperoleh ingatan-ingatan yang tidak begitu jelas. Baru beberapa hari yang lalu, saya sedang duduk bersama seorang lama dan satu hal yang dikatakannya kepada saya adalah bahwa saya memiliki kesan baik yang sangat berpengaruh dari beberapa kehidupan lampau saya, dan oleh karena itu pencapaian saya akan lebih cepat terwujud dibandingkan pada kebanyakan orang lainnya.

Tentu saja, semakin lama Anda berlatih, Anda akan mampu mengembangkan beberapa jenis kemampuan. Tetapi hal-hal tersebut tidaklah penting. Apa yang penting adalah apa yang Anda perbuat dengan hidup Anda. Saya juga tidak menganggap penting mengenai siapa saya di kehidupan yang lampau; yang terpenting adalah siapa diri saya di kehidupan sekarang.

Dan apa yang saya lakukan dalam hidup ini baru layak dikatakan penting hanya jika saya bisa meringankan penderitaan orang lain, membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, melayani Buddha dan umat manusia, dan menanamkan benih bodhicitta (kondisi pikiran yang murni sebagaimana adanya) dalam hati setiap orang.

Jadi, apakah latihan Anda telah berlangsung cukup lama?
Oh, saya telah sedang melakukan meditasi secara serius dengan cara saya sendiri selama sekitar (lebih dari) dua puluh tujuh tahun.

Ketika Anda menjadi bintang film, bagaimana hal tersebut mempengaruhi ego Anda? Apakah Anda bisa lepas kendali?
Ketika saya di Jepang, orang-orang ‘mengagung-agungkan’ saya, dan alasan saya meninggalkan tempat itu adalah karena keadaan seperti itu bagaikan sebuah perangkap yang mematikan. Itulah sebabnya saya meneruskan latihan spiritual saya di Amerika. Saya pikir ‘pengagung-agungan’ seperti itu bukanlah salah satu masalah terbesar saya dalam hidup karena saya cukup beruntung telah lama memahami apa sesungguhnya suatu pujian dan kekuasaan. Menurut saya, hambatan terbesar adalah kurangnya pemahaman tentang perjalanan tersebut.

Ada satu ungkapan Buddhis yang berbunyi, “Mulailah dengan menaklukkan kekotoran batin terbesar terlebih dahulu.” Menurut Anda, apa yang menjadi kekotoran batin terbesar Anda?
Tidak benar-benar memahami perbedaan antara keinginan untuk mencapai kesempurnaan spiritual demi kebaikan semua makhluk hidup, dan untuk memuaskan diri saya! Inilah yang membuat saya bingung sewaktu saya muda dulu: saya pikir bahwa jika saya mampu memuaskan diri saya secara spiritual sampai pada pencapaian tingkat spiritual yang tinggi maka saya akan bisa melakukan hal-hal yang jauh lebih baik di dunia dan itu akan menjadi suatu hal yang baik bagi saya, dan oleh karena itu juga baik bagi semua orang yang lain. Dulu saya terlalu apatis dan bodoh untuk menyadari bahwa semua pada dasarnya adalah demi kebaikan semua makhluk hidup. Ini merupakan suatu hambatan terbesar yang pernah saya hadapi dan membuat saya sangat menderita.

Apakah Anda sering melakukan sujud?
Melakukan sujud adalah hal yang paling saya suka di dunia ini. Saat ini saya sedang mencoba menyederhanakan semua latihan-latihan pencerahan yang mungkin terlintas di benak saya, semua metodeTantra yang telah saya coba pelajari, dan saya juga mulai mencoba berkonsentrasi pada bodhicitta (kondisi pikiran yang murni sebagaimana adanya).
Saya bukanlah seorang yang suci, bukan seorang lhama yang hebat, dan saya tidak memiliki jenis latihan yang hebat. Saya hanya berusaha menerapkan latihan paling dasar bodhisattva, termasuk meditasi dan membaca paritta.

Dalam kehidupan perfilman yang sibuk, kacau, dan tidak pasti, di mana Anda bisa mendapatkan keseimbangan batin?
Ketika Anda bertanya apa yang membuat saya damai dan membantu saya melepaskan diri dari kemelekatan, mereka adalah Guru Rinpoche, Sang Buddha, dan semua pelindung.

Proyek apa yang sedang Anda kerjakan sekarang?
Saya ingin memberi makan untuk anak-anak yang menderita kelaparan dan sakit, termasuk yang mempunyai masalah dengan penglihatan mereka, di Tibet. Banyak biara-biara yang membutuhkan bantuan.

Apa yang Anda lakukan terhadap semua amarah yang tidak terkendali yang datang ketika bekerja dalam lingkungan bisnis yang saling menjatuhkan ini? Sebagai seorang Buddhis, bagaimana Anda menghadapinya?
Saya manusia-ketika terluka saya berdarah seperti layaknya orang lain. Ketika hal ini terjadi, hal yang terbaik yang dapat Anda lakukan adalah dengan membawa masalah Anda ke dalam latihan Anda. Dengan mengatasi amarah, luka, dan kemelekatan, kita menjadi lebih kuat; Anda bawa semua permasalahan tersebut ke hadapan Sang Buddha, ke hadapan para pelindung, dan sucikan pikiran Anda.

Kesan Anda di layar kaca adalah sebagai seorang laki-laki tangguh dan terhormat yang melindungi orang tidak bersalah dan membasmi para gangster, pengedar narkoba, dan teroris. Dalam karakter yang Anda perankan, Anda menggunakan kekerasan untuk mengatasi kekerasan. Ketika Anda menonton diri Anda di layar, bagaimana menyelaraskan kekerasan tersebut dengan gaya hidup dari seseorang yang mempraktekkan belaskasih dan ketiadaan kekerasan?
Saya pikir hal tersebut tidak ada hubungannya dengan hal yang lain. Saya menganggap bahwa seni mencontoh dari kehidupan dan manfaatnya seharusnya adalah menjadi suatu penafsiran yang sempurna dan tepat tentang jalan hidup yang sebenarnya, dalam segala hal yang muncul darinya. Saya adalah seorang artis yang berusaha untuk menyempurnakan keahliannya, tetapi pada saat yang sama saya memang sadar dengan adanya kekerasan tersebut. Saya berada dalam kontrak dengan Warner Brothers yang tidak bisa saya lepaskan, dan apa yang mereka inginkan dari saya adalah film yang menunjukkan aksi dari seorang pria. Sekarang setelah saya keluar dari keadaan itu, maka saya lebih bisa memerankan jenis film yang benar-benar saya inginkan, yang tentunya berkaitan dengan spiritual pada dasarnya dan yang akan membimbing orang menuju perenungan dan memberi mereka kegembiraan.

Oke, pertanyaan terakhir. Dengan menyadari ketidakterpisahan dari samsara dan nibbana, apa yang akan Anda katakan tentang hal terbaik dari seorang Steven Seagal?
Anda tahu, bisa dikatakan bahwa saya dibesarkan dalam Zen dan saya tidak memandang hidup saya sebagai yang terbaik ataupun yang terburuk.

Saya bertanya dari sudut pandang yang lain.
Hal yang paling saya syukuri adalah para guru yang telah memperbolehkan saya untuk mendapatkan sedikit pengetahuan dan kebijaksanaan yang sekarang membuat saya tetap bernapas. Saya bersyukur atas kemampuan yang saya miliki di depan layar untuk membawa kebahagiaan dan kegembiraan bagi orang-orang dan atas kemampuan yang akan saya miliki yang semoga saja bisa mendorong orang untuk merenung. Mengenai hal yang terburuk, saya menganggap musuh dan penderitaan saya yang terbesar sebagai guru terhebat saya, jadi sisi lain dari unsur negatif ini.


Copyright © 2004 Shambhala Sun Magazine
Sumber: How to Develop Happiness in Daily Living
Penerbit : Bodhi Buddhist Centre Indonesia, Medan

Sumber: http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/steven-seagal-hidup-bukanlah-mengenai-apa-yang-terbaik/

Jumat, 18 Maret 2011

Kajian Ilmiah, Sembuh lewat Meditasi

Kajian Ilmiah, Sembuh lewat Meditasi



Kajian Ilmiah, Sembuh lewat Meditasi

Tanya & Jawab AHLI, Nirmala , Desember 2005, halaman 26



Sekarang ada banyak ditulis soal penyembuhan lewat meditasi . Gangguan berbagai penyakit , dari sekedar pusing sampai lumpuh bisa sembuh dengan meditasi ( ada beberapa pengakuan kesembuhan yang saya baca dari koran ). Sepengetahuan saya , bukankah meditasi hanya pengaturan napas dan menenangkan pikiran ? Sejauh apa meditasi bisa menyembuhkan ? Bagaimana peranan obat dalam penyembuhan lewat meditasi ?

Dudi Iskandar – Bandung .




Meditasi telah dilakukan untuk meningkatkan kesehatan sejak 3 abad yang lalu . Secara ilmiah , kajian manfaat meditasi telah banyak dilakukan dalam bidang kedokteran , khususnya Kedokteran Naturopati pada sub spesialisasi Kedokteran Energi atau yang lebih dikenal sebagai vibrational medicine .

Meditasi bukan sekadar aktivitas menenangkan diri atau mengusir stres . Tidak juga sekadar proses pengaturan napas . Memang , proses meditasi adalah mengatur napas , yaitu menghirup dan menghembuskan perlahan-lahan. Ini untuk memfokuskan perhatian dan menenangkan ritme detak jantung individu yang bersangkutan .

Secara ilmiah , efek meditasi terhadap organ tubuh sudah dibuktikan oleh Itzhak Bentow yang menggunakan alat perekam ballistocardiograph. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meditasi mampu mengaktifkan gelombang saraf dalam otak. Peningkatan gelombang saraf tersebut akan meningkatkan pula koordinasi hemisfer kanan dan kiri otak. Dengan koordinasi yang baik, kanan dan kiri, maka kontrol sistem saraf otonom akan makin baik pula. Membaiknya kontrol sistem saraf otonom akan memperbaiki sistem regulasi fungsi jantung, temperatur tubuh, aliran darah, dan oksigenasi sel serta jaringan tubuh .

Lebih detail, manfaat meditasi dalam kedokteran vibrational dikenal sebagai physio kundalini mechanism. Mekanismenya dimulai dari kumpulan energi yang membentuk tubuh manusia sehingga mampu menjalankan fungsi dan kerja setiap sel, jaringan, dan organ tubuh .

Di dalam tubuh manusia terdapat berbagai macam energi, misalnya energi metabolik, energi bioelektrikal, energi biophoton ( komunikasi antar sel ), energi magnetik ( koordinasi antar organ), energi eterik yang biasa dikenal sebagai basic life energy ( energi untuk pertumbuhan dan perkembangan ), energi astral ( emosional dan intelektual ), dan lain-lain.

Berdasarkan teori ini meditasi akan meningkatkan vibrasi dan pulsasi seluruh energi tubuh yang berefek pada meningkatkan resonansi jantung dan aorta ( pembuluh darah besar yang membawa darah dari jantung ). Resonansi dan vibrasi energi akan menstimulasi sistem saraf cranial ( yaitu 12 pasang sistem saraf yang berhubungan erat dengan fungsi otak ). Aktifnya 12 pasang sistem saraf membuat ventrikel otak bekerja optimal yaitu menghasilkan rangsangan mekano-elektrik pada sistem cortex-sensory di otak. Akibatnya aliran neurotransmitter lebih lancar, yang akan melepaskan aktivitas sensorimotor. Aktivitas sensorimotor yang baik akan meningkatkan fungsi dan kerja seluruh organ atau sistem tubuh. Efeknya, regenerasi sel dan jaringan tubuh akan berlangsung secara optimal.

Penelitian lain menunjukkan bahwa meditasi akan menimbulkan perubahan bertahap pada tingkat energi basal yang berfungsi membentuk stem sel ( sel cikal bakal dari seluruh sel tubuh ). Dengan baiknya pembentukan stem sel maka sel atau jaringan yang mati atau rusak dapat segera diganti sebelum menimbulkan masalah .

Di negara maju seperti Amerika atau Eropa Barat, cara meditasi telah banyak digunakan sebagai upaya untuk melengkapi pengobatan medis. Dalam beberapa laporan ilmiah, terlihat bahwa meditasi sangat penting untuk mengatasi berbagai macam penyakit degeneratif seperti jantung koroner, tekanan darah tinggi, kanker, rematik, alergi sampai asma, depresi, kecemasan, kecanduan obat, gangguan metabolisme dan sebagainya. (N)

Dr. Amarullah H. Siregar , DIHom , DNMed , MSc , PhD.

Dokter ahli naturopati. Menangani kasus secara holistic dengan pendekatan ilmu naturopati (misal suplemen, fitofarmaka, herba, homeopati, pola aktivitas ).

Sumber: http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/sembuh-lewat-meditasi/

Kamis, 27 Januari 2011

Bhiksu Lodre Sangpo, dari Jerman, Mengenal Buddhis di Indonesia

 
 
Bhiksu Lodre Sangpo
Mengenal Buddhis di Indonesia
  
Saya lahir di Jerman 43 tahun yang lalu, anak kedua dari tiga bersaudara. Saat masih muda saya menyelesaikan pendidikan di Jerman yang kalau di Indonesia mungkin D3. yang mana lebih ke arah Ilmu Pengetahuan. Ketika saya berumur 20an, saya mulai berkeliling Asia, terutama Asia Tenggara, dari tahun 1989-1993 saya berkeliling di Indonesia dan menjadi Buddhis juga di Indonesia. Kemudian saya banyak belajar di India dan Nepal, dan di tahun 1994 saya menjadi Samanera, waktu itu di Bodhgaya. Guru utama saya, beliau sudah wafat, salah satu dari aliran Gheluk, yang berdomisili di Dharmasala.

    Di tahun 1997 saya menjadi Biksu di India Selatan. Dari tahun 1998 sampai sekarang saya banyak berkeliling kemana-mana, saya pernah ke Thailand, Srilanka dan lain-lain. Kemudian , di tahun 1998-2002 saya juga banyak belajar di bagian Teravada karna pernah juga tinggal bersama Biku Teravada di Thailand. Saya banyak menghabiskan waktu di Indonesia, seperti pernah tinggal di Manado selama 2 tahun, juga di daerah Tanggerang cukup lama, dan sejak bulan Juli tahun lalu kebanyakan saya tinggal di Jakarta Barat. Saya juga pernah 1 tahun tinggal di Philipina pada tahun 2008-2009. lalu saya mengajar di sekolah disana.

    Saya berharap mungkin 1 tahun sekali minimal saya dapat keluar untuk belajar atau mungkin menemui para Guru, retret mungkin, karena saya belum menjadi Buddha, saya masih harus mencari waktu untuk melatih diri. Begitupun saya melihat para guru saya, walaupun mereka sudah tua, mereka tetap masih belajar apalagi saya. 
 
    Di posisi saya, saya sering dijadikan guru, padahal saya juga masih belajar sehingga seringkali apalagi di Indonesia, anggota Sanggha sangat langka, saya sering dalam posisi mengajar, membimbing upacara, maka dari itu saya harus mengerti dan belajar sebanyak mungkin, semakin banyak pengalaman semakin banyak manfaat yang bisa saya berikan. Karena bila gurunya bodoh bagaimana mau mengajar muridnya?

    Kenapa saya tertarik dengan Buddha? Itu sulit untuk di jawab, mungkin agak complex. Dimasa muda saya banyak pertanyaan, tentang kehidupan, dan saya mencari jawaban. Dan di antara semua jawaban yang saya temukan, yang paling tepat buat saya adalah Ajaran Buddha. Karena latar belakang saya orang Ilmu Pengetahuan, lebih ke logika, sehingga menurut pengertian saya pribadi, Ajaran Buddha banyak yang berlogika. Dari situ mungkin titik awalnya, kemudian lanjut dan apalagi saya bukan dari lingkungan Buddhis, dan 20 tahun yang lalu ketika saya bertemu dengan Ajaran Buddha, pada saat itu masih belum terlalu banyak informasi tentang Buddhis, tidak seperti sekarang yang lebih lumayan dibandingkan 20 tahun yang lalu.

    Itulah mengapa saya merasa seperti menemukan sesuatu yang sangat berharga dan saya merasa beruntung sehingga tidak mau dilepas. Muncullah keinginan untuk mengambil manfaatnya, dimana bila saya hanya menjadi umat biasa, maka saya memiliki waktu yang terbatas, kemudian saya berfikir untuk menjadi anggota Sangha, karna dengan demikian saya punya banyak waktu, lebih full time, kalau umat biasa hanya part time karena ada kegiatan lain seperti kerja, kuliah belum lagi kalau menikah, waktunya akan menjadi padat.
    Meskipun sebagai samanera atau biku memiliki waktu full time, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar dan terus belajar, apalagi kami sebagai anggota Sanggha mungkin banyak dilayani, mulai dari makanan yang disediakan, tempat tinggal, obat-obatan dan lain sebagainya, maka sebagai anggota Sanggha harus memanfaatkan waktu full time tersebut sebaik mungkin dengan terus belajar dan berlatih, kalau hanya makan tidur saja, mungkin saya pikir bisa mendapat karma berat.

    Bicara tentang Ajaran Buddha mungkin saya bisa berbagi sedikit pengetahuan saya, dimulai dari pendedikasian yang ada dalam Buddhis, yaitu Mahayana, Teravada, dan Tantrayana. Dedikasi juga mencerminkan Mahayana yang intinya semoga dari kebajikan yang telah saya lakukan semoga saya mencapai pecerahan sempurna demi semua makhluk hidup, contohnya dari praktek yang telah dilakukan Avalokitesvara, yaitu membimbing semua makhluk hidup ditingkat keBudhaan.

    Jadi ada Mahayana dimana kita membangkitkan Bodhicitta demi semua makhluk hidup kita mendedikasikan. Kemudian juga ada Teravada dan Tantrayana. Semua itu saling berkaitan satu sama lain. Namun sebelum kita mengambil sumpah Bodhisatva sebelumnya kita harus berlindung terlebih dahulu dan mengambil 5 sila. Dalam Tantra ada banyak tingkat dan yang ditingkat yang tinggi ada sumpah Tantra tetapi sebelumnya harus mengambil sumpah Bodhisatva terlebih dahulu.

    Dahulu di Vihara Nilanda, di India yang terkenal mungkin lebih banyak Guru Mahayana yang mana selain bahasa Sanskrit mereka juga mempelajari bahasa Pali, keduanya dipelajari bersama. Jadi sesungguhnya apabila kita mau benar-benar praktik tidak bisa langsung loncat, walaupun mungkin bisa saja karna di Tibet kami juga belajar 4 kebenaran, kita harus lewati tahap itu mungkin bukan dari tradisi manapun tetapi memang dari Budha, yang didalam tradisi Geluk kami belajar Lamrin yang merupakan tahap jalan panjang menuju kesempurnaan. Tahap awalnya kita merenungkan keberadaan kita didunia ini, lalu  bagaimana akhir dari kehidupan kita, bagaimana makna dari kehidupan manusia, kemudian juga karma dan sebagainya yang umum, mungkin cenderung ke arah Teravada umum, kemudian kita membangkitkan bodhicitta, Sunyata yang lebih cenderung ke Mahayana umum, dan kalau sudah selesai baru lanjut ke Tantra.

    Sama seperti kalau kita mau membangun rumah diatas pasir, tidak akan kuat, kita harus membuat cor yang kuat memakai kerikil, batu dan sebagainya sehingga kokoh saat kita membangun sebuah rumah dan tahan lama. Sama seperti Tantra, bila kita mau mempraktekkannya sangat  baik bila kita memahami tentang penderitaan, lalu sungguh-sungguh membangkitkan keinginan membebaskan diri dari penderitaan, yang nanti kita cari siapa yang bisa membimbing saya, dan kita berlindung pada Buddha, Dharma dan Sangha. Karna Buddha telah mencontohkan apa yang ingin kita jalankan, Buddha telah selesai dan jika kita ingin menjadi seperti yang Buddha lakukan kita tahu bahwa kita harus mengikuti yang Buddha ajarkan.

    Dengan menjadi Buddha kita baru bisa menolong semua makhluk oleh karna itu kita juga harus memiliki tekad yang bulat bahwa saya harus menjadi Buddha, yang mana untuk menolong diri sendiri tetapi juga dapat menolong semua makhluk. Maka dari itu kita harus menjalankan praktek dan Sunyata yaitu kebenaran. Kita harus membuka mata batin kita agar kita dapat melihat kebenaran sejati, dengan menyingkirkan semua yang dapat menghalangi pandangan kita.Sehingga ketika kita sudah mendapat pandangan benar. Dan itu tidak kita cari dari luar, karena Budha mengatakan bahwa semua makhluk bukan hanya manusia memiliki Benih Kebudhaan (Buddha Nature), yang membedakan mereka dan kita sebagai manusia adalah kita berada pada alam yang dapat membangkitkan benih kebudhaan itu. 
 
    Manusia memiliki keberuntungan dalam kebebasan, kemampuan, potensi yang mencukupi untuk mencapainya, yang tidak dimililiki makhluk lain. Mungkin di alam yang rendah terlalu banyak penderitaan, atau di alam binatang tidak memiliki kemampuan, kebodohan dan kebebasan yang menyebabkan mereka tidak dapat mencapainya. Yang alam tinggi seperti di alam surga, mungkin terlalu menyenangkan sehingga menjadi malas dan cuek, tidak mau berusaha. Kalau kita di alam manusia itu pas, kita ada keberuntungan, kemampuan tetapi kita juga ada penderitaan, karna dari penderitaan itulah yang menjadi motivasi, yang mendorong kita untuk membebaskan diri.

    Bila kita tidak ada penderitaan, kita hanya senang terus mungkin kita tidak ada bedanya dari dewa, kita tidak akan ada semangat untuk berubah dan mencapai penerangan sempurna. Tapi karena kita manusia, kita mengalami masalah, sakit, dan sebagainya, yang kemudian membuat kita berniat untuk tidak mengalami penderitaan itu lagi sehingga kita mencari cara bagaimana kita dapat terbebas dari penderitaan itu. Kita berpotensi dan kita juga harus menemukan Ajaran. Karna tanpa Ajaran kita tidak tahu kemana langkah kita, tetapi jika kita menemukan Ajaran kita sangat beruntung karena kita menjadi tahu kemana langkah kita.

    Oleh karena itu manfaatkanlah sebaik mungkin karma kita yang telah terlahir sebagai manusia dan bertemu dengan Ajaran Budha, dengan belajar dan mempraktekkan apa yang diajarkan Budha. (.red)

source : hasil wawancara tim redaksi Majalah Sakya

Minggu, 02 Januari 2011

Mengapa Aku Memilih Agama Budha

Mengapa Aku Memilih Agama Budha
Oleh Deva19 (inisial)


Setelah aku mempelajari agama Islam, kristen, Hindu, dan Budha, maka Pencerahan Tertinggi yang bisa aku dapatkan terdapat di dalam ajaran Agama Budha.

Semua agama mengajarkan pentingnya menahan nafsu amarah. Tetapi tidak ada agama yang bisa menjelaskan bagaimana cara sistematis untuk menghancurkan sifat marah dalam hati, selain dari Agama Budha. Semua agama yang lain memerintahkan manusia untuk manahan amarah, sedangkan agama Budha tidak hanya memerintahkan menahan amarah, melainkan juga “melihat” amarah. 

Dalam semua Agama lain, hidup berpusat pada Tuhan sebagai tujuan hidup dan kebahagiaan tertinggi. Tetapi, Tuhan adalah merupakan sosok yang gaib, misteri dan tidak akan pernah terjangkau oleh akal ataupun kesadaran. Tidak ada yang dapat berkomunikasi dengan tuhan, kecuali para nabi atau orang yang dipilih oleh tuhan itu sendiri. Sedangkan dalam Agama Budha, hidup berpusat kepada nibbana sebagai tujuan hidup dan pencapai kebahagiaan tertinggi. Sedangkan Nibbana ini merupakan sesuatu yang dapat direalisasi, bukan sosok misteri yang tidak dapat dijangkau oleh batin manusia. Dan ada cara sistematis untuk mencapainya. Semua orang dipersilahkan untuk mencapainya.

Dalam semua Agama dikisahkan tentang surga dan neraka. Tetapi semua kisah tersebut dikisahkan oleh Tuhan, dan tidak ada petunjuk, bagaimana agar manusia dapat melihatnya sendiri. Tetapi dalam Agama Budha, semua ajarannya adalah bersifat ehipasiko. 

Dalam setiap Agama terdapat banyak sekte, aliran atau mazhab. Demikian juga dalam agama Budha. Aku mendalami semua mazhab berbagai agama, tetapi pencerahan terbaik hanya aku dapatkan dalam mazhab Theravada, sebagai salah satu mazhab agama Budha. Dan jalan keluar dari kenbingunan terhadap banyaknya mazhab agama di dunia tersebut telah dijawab oleh sang Budha dengan sangar jelas dan rinci di dalam Sutta Kallama. 

Dengan mendalami Agama Budha, saya memahami kebenaran yang sesungguhnya dari kalimat-kalimat yang terdapat di dalam kitab-kitab agama lain. Sebelum mendalami agama Budha, ajaran-ajaran agama lain itu serasa membingungkan buat saya. 

Perdebatan dan perbedaan faham terjadi di semua umat beragama. Demikian pula diantara umat agama Budha. Dalam Islam, sunni dengan syiah senantiasa berdebat tentang ushuludin, perdebatan yang tidak berujung dan tidak berdampak pada perkembangan moral. Dalam kristen, kelompok penganut Trinitas dengan Arinaism senantiasa berdebat, tanpa berujung pada berkembangnya kesucian. Tetapi di dalam umat Budha, perdebatan yang terjadi umumnya mengarah kepada terbentuknya pengetahuan tentang bagaimana mencapai kesucian. Perdebatan yang dianggap tidak membangun pengetahuan tentang pencapaian kesucian dianggap tidak bermanfaat oleh mayoritas umat Budhis, sehingga meminimalisir kemungkinan terjadi perdebatan yang tidak berguna secara berlarut-larut. Saya pikir, mayoritas umat budhis lebih toleran terhadap perbedaan. Setidaknya, jika ada umat yang memiliki keyakinan yang menyimpang dari Agama Budha, tidak sampai dipenjara atau dipenggal kepala. 

Dalam semua agama diberitakan tentang pentingnya mencapai kesucian. Tetapi hanya Agama Budha yang dapat memberi penjelasan yang sangat jelas tentang bentuk-bentuk kesucian dan cara terperinci untuk mencapai kesucian. 

Agama Budha adalah satu-satunya Agama yang dapat menjawab tuntutan kebutuhan akal. Sebab semua ajarannya berdasarkan pembuktian secara langsung oleh setiap individu, bukan sesuatu yang umat wajib percaya begitu saja. 

Hanya umat Budha yang berkata kepada saya, “Jadilah seorang Budhis, tanpa harus meninggalkan agama anda sebelumnya.” Tidak ada pemuka agama lain atau umat agama lain yang dapat berkata demikian. Umat yang lain senantiasa berkata, “tinggalkan agama lamamu sepenuhnya, untuk memeluk agama yang ini.” Hanya umat Budha yang dapat memahami bahwa Agama bukanlah suatu label. 

Dalam semua agama terdapat praktik meditasi, yang serupa dengan meditasi samatha di dalam Agama Budha, tetapi praktik meditasi vippasana yang tersebar diantara umat Budha, yang merupakan ajaran dari Agama Budha, merupakan praktik meditasi yang tidak ada duanya, tidak ada padanannya di dalam agama lain. 

Kebahagiaan hidupku dibangun oleh ajaran sang Budha, kesehatan dan kekuatan tubuh-batinku dibangun melalui praktik meditasi samatha-vippasana, bagaimana mungkin aku tidak memilih agama Budha sebagai agamaku? Itulah satu-satunya jalan bagiku untuk mencapai kebahagiaan hidup, dan tidak kulihat jalan lainnya. 

Hanya sedikit yang menjadi ganjalan. Setelah membaca naskah-naskah Budhisme, saya menemukan banyak fakta kebenaran yang tidak difahami oleh umat Budhis itu sendiri. Saya sangat mengharapkan ada beberapa orang yang umat Budhis yang memahami fakta kebenaran, sehingga dapat menguatkan tekad saya untuk bergabung dengan komunitas Budhis. Tetapi, saya tidak dapat mengemukakan apa saja fakta-fakta tersebut, karena akan sulit terjangkau oleh nalar umat Budhis. Dari pada menimbulkan pertentangan, lebih baik saya menyimpannya untuk diri saya sendiri. Tapi saya bertekad, jika suatu waktu ada seorang Budhis, seorang umat biasa ataupun Bikhu yang dapat menjelaskan fakta-fakta kebenaran yang tersembunyi dari ajaran Sang Budha, maka pada saat itulah saya akan bergabung dengan komunitas umat Budhis.


====================================

selama agama hanya menjadi bahan perdebatan, maka ia tidak akan berbuah kesucian. selama tidak berbuah kesucian, maka tidak akan berbuah pengetahuan sejati, selama tidak berbuah kepada kesucian sejati, maka tidak ada kebijaksanaan, selama tidak ada kebijaksanaan, tidak ada kebahagiaan. selama tidak ada kebahagiaan, maka tidak ada kebenaran. 

tidak agama yang terlihat benar, selama agama hanya diperdebatkan. jika agama hanya menjadi bahan renungan, maka semua agama salah. Agama bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk dipraktikan. ajaran yang harus dipraktikan adalah yang berbuah kesucian. 

di dalam agama budha atau agama lainnya, selalu ada penyimpangan-penyimpangan ajaran. tetapi bila ada satu saja yang dapat memberi penjelasan dengan benar, berarti agama yang benar telah ditemukan. 

seorang ulama syiah memang merupakan pakar fisika, kimia, biologi, astronomi, dll, mereka dapat menunjukan jalan bagi manusia untuk mencapai suatu kondisi batin yang tinggi. akan tetapi apa arti semua itu, bila batin saya tidak dapat berkembang dengan ajaran mereka. dan bila batin saya bisa berkembang melalui ajaran budha, berarti ajaran budha itulah jalan satu-satunya yang harus saya tempuh. 

seorang ulama syiah pernah berkata kepada saya, "tinggalkanlah semua ajaran budha yang selama ini kau yakini dan kau praktikan, sesungguhnya ajaran Islam sudah mencakup segala kebenaran yang diajarkan oleh sang Budha." 

saya menjawab,"lebih baik Habib ajarkan saja dulu ilmu habib kepada saya. kalau sudah terasa atau terlihat oleh saya bahwa memang ajaran Habib mencakup semua ajaran sang Budha, tentulah saya tidak perlu lagi datang ke vihara untuk belajar kepada seorang bikhu."

tetapi 7 tahun sudah berlalu, Habib tersebut belum pula mengajarkan apapun pada saya. 


============================================
saya tidak mempelajari agama budha sejak 7 tahun lalu. itu tadi saya agak ceroboh menulisnya. sebenarnya saya baru mempelajarinya sejak tahun 2004, secara sekilas-sekilas dengn mendengarkan uraian dhamma di televisi. pada tahun 2005 atau 2006, saya mulai membaca-baca artikel budhis di internet. tahun 2007, saya baru benar-benar tertarik dengan agama budha, dan mulai membeli buku-buku budhis. 

adapun sebelum tahun 2004, yaitu sejak saya kecil, saya sudah terbiasa bermeditasi. tidak ada orang yang mengajarkan. tetapi saya seperti terdorong secara insting saja untuk bermeditasi. tangan saya seringkali seperti digerakan oleh suatu energi yang memaksa saya untuk menyatukan kedua telapak tangan (posisi sembah) dan menegakan punggung. waktu itu saya tidak tahu menahu soal budhis atau ajran agama lainnya. pengalaman-pengalaman saya dalam mditasi, melahirkan pemahaman-pemahaman yang menrutu Habib syiah itu merupakan faham agama Budha. jadi, kalau dihitung dari masa ketika saya berbicara ke Habib, itu kira-kira memang ada 7 tahun yang lalu.


Sumber: http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=13934.0