Sabtu, 11 Desember 2010

Rahasia si Untung


Rahasia si Untung

Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek.

Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung.


Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya. Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang-orang beruntung dengan yang sial.

Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesannya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa? Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah-tengah koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!” Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan empat faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:

1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.


Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam. Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan. Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara. Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya: – Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi. – Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.


3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.


4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umumnya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.


Sekolah Keberuntungan.

Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School. Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang-orang semacam itu adalah dengan membuat “Luck Diary”, buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi. Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yang mereka tuliskan. Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka. Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk teman semua.


Siap mulai menjadi si Untung?

Jumat, 10 Desember 2010

7 Keunggulan Ajaran Buddha




7 Keunggulan Ajaran Buddha



Buddha diagungkan bukan karena kekayaan, keindahan, atau lainnya. Beliau diagungkan karena kebaikan, kebijaksanaan, dan pencerahanNya. Inilah alasan mengapa kita, seorang Buddhis, menganggap ajaran Buddha sebagai jalan hidup tertinggi.

Apa sajakah keunggulan-keunggulan yang menumbuhkan kekaguman kita terhadap ajaran Buddha?

1. Ajaran Buddha tidak membedakan kelas / kasta

Buddha mengajarkan bahwa manusia menjadi baik atau jahat bukan karena kasta atau status sosial, bukan pula karena percaya atau menganut suatu kepercayaan. Seseorang baik atau jahat karena perbuatannya. Dengan berbuat jahat, seseorang menjadi jahat, dan dengan berbuat baik, seseorang menjadi baik. Setiap orang, apakah ia raja, orang miskin atau pun orang kaya, bisa masuk surga atau neraka, atau mencapai Nibbana, dan hal itu bukan karena kelas atau pun kepercayaannya.

2. Ajaran Buddha mengajarkan belas kasih yang universal

Buddha mengajarkan kita untuk memancarkan metta (kasih sayang dan cinta kasih) kepada semua makhluk tanpa kecuali. Terhadap manusia, janganlah membedakan bangsa. Terhadap hewan, janganlah membedakan jenisnya. Metta harus dipancarkan kepada semua hewan termasuk yang terkecil seperti serangga.

3. Dalam ajaran Buddha, tidak seorang pun diperintahkan untuk percaya

Sang Buddha tidak pernah memaksa seseorang untuk mempercayai ajaranNya. Semua adalah pilihan sendiri, tergantung pada hasil kajian masing-masing individu. Buddha bahkan menyarankan, “Jangan percaya apa yang Kukatakan kepadamu sampai kamu mengkaji dengan kebijaksanaanmu sendiri secara cermat dan teliti apa yang Kukatakan.” Ajaran Buddha tidak terlalu dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan dan kritik-kritik terhadap ajaranNya. Jelaslah bagi kita bahwa ajaran Buddha memberikan kemerdekaan atau kebebasan berpikir.

4. Agama Buddha mengajarkan diri sendiri sebagai pelindung

Buddha bersabda, “Jadikanlah dirimu pelindung bagi dirimu sendiri. Siapa lagi yang menjadi pelindungmu? Bagi orang yang telah berlatih dengan sempurna, maka dia telah mencapai perlindungan terbaik.”

Ini bisa dibandingkan dengan pepatah bahasa Inggris, “God helps those who help themselves” –Tuhan menolong mereka yang menolong dirinya sendiri. Inilah ajaran Buddha yang menyebabkan umat Buddha mencintai kebebasan dan kemerdekaan, dan menentang segala bentuk perbudakan dan penjajahan.

Buddha tidak pernah mengutuk seseorang ke neraka atau pun menjanjikan seseorang ke surga, atau Nibbana; karena semua itu tergantung akibat dari perbuatan tiap-tiap orang, sementara Buddha hanyalah guru atau pemimpin. Seperti tertulis dalam Dhammapada, “Semua Buddha, termasuk Saya, hanyalah penunjuk jalan.” Pilihan untuk mengikuti jalanNya atau tidak, tergantung pada orang yang bersangkutan.

5. Ajaran Buddha adalah ajaran yang suci

Yang dimaksudkan di sini adalah ajaran tanpa pertumpahan darah.

Dari awal perkembangannya sampai sekarang, lebih dari 2500 tahun –ajaran Buddha tidak pernah menyebabkan peperangan. Bahkan, Buddha sendiri melarang penyebaran ajaranNya melalui senjata dan kekerasan.

6. Ajaran Buddha adalah ajaran yang damai dan tanpa monopoli kedudukan

Dalam Dhammapada, Buddha bersabda, “Seseorang yang membuang pikiran untuk menaklukkan orang lain akan merasakan kedamaian.” Pada saat yang sama, Beliau memuji upaya menaklukkan diri sendiri. Beliau berkata, “Seseorang yang menaklukkan ribuan orang dalam perang bukanlah penakluk sejati. Tetapi seseorang yang hanya menaklukkan seorang saja yaitu dirinya sendiri, dialah pemenang tertinggi.”

Di sini, menaklukkan diri sendiri terletak pada bagaimana mengatasi kilesa (kekotoran batin). Andaikan semua orang menjadi umat Buddha, maka diharapkan manusia akan beroleh perdamaian dan kebahagiaan. Buddha mengatakan bahwa semua makhluk harus dianggap sebagai sahabat atau saudara dalam kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Beliau juga mengajarkan semua umat Buddha untuk tidak menjadi musuh orang-orang tidak satu keyakinan atau pun menganggap mereka sebagai orang yang berdosa. Beliau mengatakan bahwa siapa saja yang hidup dengan benar, tak peduli kepercayaan apapun yang dianutnya, mempunyai harapan yang sama untuk memperoleh kebahagiaan di kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang. Sebaliknya, siapapun yang menganut ajaran Buddha tetapi tidak mempraktikkannya, hanya akan memperoleh sedikit harapan akan pembebasan dan kebahagiaan.

Dalam ajaran Buddha, setiap orang memiliki hak yang sama untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Dengan kata lain, setiap orang dapat mencapai Kebuddhaan.

7. Ajaran Buddha mengajarkan hukum sebab dan akibat

Buddha mengajarkan bahwa segala sesuatu muncul dari suatu sebab. Tiada suatu apapun yang muncul tanpa alasan.

Kebodohan, ketamakan, keuntungan, kedudukan, pujian, kegembiraan, kerugian, penghinaan, celaan, penderitaan –semua adalah akibat dari keadaan-keadaan yang memiliki sebab.

Akibat-akibat baik muncul dari keadaan-keadaan yang baik, dan akibat buruk muncul dari penyebab-penyebab buruk pula. Kita sendiri yang menyebabkan keberuntungan dan ketidakberuntungan kita sendiri. Tidak ada Tuhan atau siapapun yang dapat melakukannya untuk kita. Oleh karena itu, kita harus mencari keberuntungan kita sendiri, bukan membuang-buang waktu menunggu orang lain melakukannya untuk kita. Jika seseorang mengharapkan kebaikan, maka dia hanya akan berbuat kebaikan dan berusaha menghindari pikiran dan perbuatan jahat.

Prinsip-prinsip sebab dan akibat; suatu kondisi yang pada mulanya sebagai akibat akan menjadi sebab dari kondisi yang lain, dan seterusnya seperti mata rantai. Prinsip ini sejalan dengan pengetahuan modern yang membuat ajaran Buddha tidak ketinggalan zaman daripada kepercayaan-kepercayaan lain di dunia.

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=352944941010&id=315488630071

Kamis, 09 Desember 2010

Otak Manusia Siapa yang Paling Bahagia di Dunia?

Otak Manusia Siapa yang Paling Bahagia di Dunia?

Nurul Ulfah - detikHealth


Matthieu Ricard


Wisconsin, Adakah orang yang paling bahagia di dunia di tengah tumpukan masalah hidup yang melilit? Ternyata peneliti menemukan otak manusia paling langka yang berisi gelombang gamma, yakni gelombang yang diduga sebagai penentu kebahagiaan seseorang.

Gelombang gamma sangat jarang ditemukan pada manusia. Tapi otak seorang biksu berkebangsaan Perancis yang tinggal di daratan Himalaya diketahui penuh dengan gelombang gamma. Hal itu membuatnya dijuluki manusia paling bahagia di dunia.

Biksu tersebut bernama Matthieu Ricard. Menurut Ricard, kunci kebahagiaan terletak pada kekuatan mental. Sebagai penganut ajaran dan teori agama Budha, ia percaya bahwa kebahagiaan akan diperoleh jika fokus pada kekuatan diri sendiri. Teknik meditasi dan sikap mementingkan kepentingan orang lain adalah kuncinya.

Ricard menyebutkan ada tujuh aspek yang mempengaruhi kebahagiaan dalam hidup seseorang, diantaranya keluarga, pekerjaan, kesehatan dan sikap mental. Semua aspek itu tergabung dan terperangkap dalam pikiran. Untuk itu, apapun yang terjadi dalam hidup, semuanya harus dikembalikan pada pikiran yang tenang.

"Jika seseorang bisa menenangkan pikiran, masalah apapun yang ada dalam hidup akan terasa baik-baik saja," kata Ricard seperti dikutip dari Timesonline, Selasa (9/2/2010). Demi menghasilkan pikiran yang fokus dan tenang, Ricard sengaja untuk tidak menikah, tidak mempunyai anak atau berkarir.

Teori memfokuskan dan menenangkan pikiran yang diterapkan Ricard ternyata diakui oleh para pakar otak. Berdasarkan hasil scan otak yang dilakukan peneliti dari University of Wisconsin terhadap Ricard, diketahui bahwa bagian abu-abu pada otaknya menghasilkan gelombang gamma.

Gelombang gamma adalah gelombang yang menentukan tingkat kesadaran, ingatan, pembelajaran dan lainnya. Dalam sejarah dan literatur neuroscience, gelombang gamma belum pernah ditemukan sebelumnya pada otak manusia. Gelombang gamma inilah yang mempengaruhi tingkat ketenangan dan kebahagiaan seseorang.

Peneliti tidak hanya memeriksa otak Ricard, tapi juga faktor lainnya seperti gerakan otot muka, kemampuan mempertahankan ketenangan dan sebagainya. Semua faktor itu jika digabungkan akan menghasilkan kesehatan otak yang optimal.

Meski Ricard diduga sebagai manusia paling bahagia di dunia, ia tidak pernah mengajak apalagi memaksa orang lain untuk masuk dan menganut agamanya. Pakar saraf dan otak pun hanya menyarankan agar orang-orang mengikuti teknik yang diterapkan Ricard jika ingin hidup tentram dan bahagia.

Beberapa teknik yang dianjurkan Ricard diantaranya yaitu meditasi, mendahulukan kepentingan orang lain dan melatih pikiran bawah sadar.

Tak jauh berbeda dengan Ricard, seorang pengarang buku 'Happiness: Lessons from a New Science', Lord Layard pun mengatakan bahwa rumus bahagia adalah bersosialisasi, membuat koneksi, bergerak secara aktif, terus belajar dan biasakan memberi sesuatu untuk orang lain.

Menurut Layard yang juga merupakan pakar ekonomi Inggris, pemerintah perlu merancang program pembangunan pola hidup yang tepat untuk meningkatkan rasa bahagia.

"Kebanyakan dana dialokasikan pemerintah untuk mengurangi kemisikinan atau penyakit. Seharusnya pemerintah juga perlu mengalokasikan dana lebih untuk pelayanan kesehatan mental, dukungan orangtua dan edukasi yang positif," kata Layard. (fah/ir)



Sumber :
http://health.detik.com/read/2010/02/09/160046/1296057/766/otak-manusia-siapa-yang-paling-bahagia-di-dunia

Rabu, 08 Desember 2010

Keanu Reeves Mengenal Dharma





Keanu Reeves Mengenal Dharma



Keanu Reeves, terkenal dalam perannya sebagai Pangeran Siddharta
dalam film Little Buddha dan sebagai pemeran utama dalam trilogi Matrix,
baru-baru ini telah membintangi Constantine, film terkenal lainnya dengan
tema keagamaan. Sebagai pendukung agama Buddha yang setia,
dia memberikan kata pendahuluan, saling bergantian dengan Richard Gere,
dalam setiap dari tiga belas seri Discovering Buddhism at Home Series
yang berdurasi 30 menit yang diterbitkan oleh
Foundation for the Preservation of the Mahayana Tradition (FPMT).
Dalam wawancara oleh Stephen Hamel ini, Keanu berbicara
tentang perannya dalam film The Little Buddha,
apa yang membuat dia tertarik pada agama Buddha,
kegemarannya pada buku-buku karangan Dalai Lama,
dan bagaimana agama Buddha memberinya
suatu arti kehidupan yang baru.



Bagaimana Anda bisa terlibat dengan Bernardo Bertolucci dan film The Little Buddha?


Bernardo menonton My Own Private Idaho dan dia melihat saya di sana. Dulu saya tidak tahu apapun tentang agama Buddha. Ketika saya masih kecil, ibu saya mempunyai hasil kerajinan dari negeri China, jadi bagi saya Buddha adalah orang gemuk yang sedang tersenyum ini. Saya berasal dari keluarga yang bukan Kristen. Ibu saya orang Inggris dan tidak tertarik dengan gereja, tidak terlalu peduli akan hal keagamaan. Dalam hidup saya, saya telah mencari dan tertanya-tanya tentang Tuhan. Saya bergabung dengan perhimpunan Alkitab sebentar ketika masih berumur 11 tahun tetapi rupanya membosankan.
Kami bertemu di sebuah hotel di kota New York dan Bernardo menceritakan kisah dari naskah ini kepada saya.


Dia bercerita tentang lama dari Tibet yang dia jumpai dan bagaimana dia juga dulunya berasal dari keluarga yang tidak beragama, yang tidak memiliki kepercayaan, seperti saya. Tapi ketika dia bertemu para lama ini, mereka seakanakan "mempengaruhi" dia begitu saja. Dan sewaktu dia bercerita, saya mulai menangis, dan menyadari bahwa saya ingin sekali berada di sana.

Ketika Anda syuting untuk film Much Ado About Nothing di Italia, Anda bertemu dengan aktor Brian Blessed, dan dia membantu Anda dalam persiapan untuk film The Little Buddha.


Ada sesuatu tentang Brian Blessed yang membuat saya berpikir bahwa dia ada bermeditasi. Dia seorang aktor, dia mendaki Gunung Everest, dan ada sesuatu tentang dia yang membuat saya ingin bertanya kepadanya tentang Dharma (kebenaran). Jadi saya bertanya kepadanya apakah dia sudi meluangkan sedikit waktu untuk mengajarkan meditasi kepada saya. Saya harus membuktikan kepadanya bahwa saya ingin belajar. Dia mengajarkan saya meditasi yang sangat sederhana dan mendasar. Inilah awal perkenalan saya pada banyak pengalaman lain, pada suatu pesona yang menarik saya.
Selama 3 bulan saya terlibat dalam film ini, saya telah mendapatkan banyak contoh berjumpa dengan umat Buddha tanpa disengaja. Dalam perjalanan ke Florence untuk menemui saudara perempuan saya, saya memberi tumpangan untuk seseorang di jalan dan tiba-tiba saja saya bisa bertanya, "Apakah Anda seorang Buddhis?" Dan ya, dia bilang dia seorang umat Buddha! Hal ini sering kali terjadi.

Kapan Anda mulai terpikat secara mendalam dengan agama Buddha? Pada kunjungan pertama Anda ke Nepal?

Saya mulai merninta dikirimkan buku-buku Dharma kepada saya ketika saya syuting film Much Ado About Nothing, dan mulai membaca, melatih sikap tubuh dan duduk bermeditasi. Hal pertama yang saya pelajari adalah Empat Kebenaran Mulia: penderitaan, penyebab penderitaan, akhir dari penderitaan, dan jalan menuju akhir dari penderitaan. Umat Buddha percaya akan tidak adanya 'diri'. Sang 'aku', yang kita sebut 'ego' di Barat, tidaklah ada.
Ketika saya di Nepal untuk membuat kostum, saya bertemu dengan seorang "guru", seorang Rinpoche (ahli dalam agama Buddha), yang bekerja bersama Bernardo. Saya mendapatkan beberapa sesi pelatihan diri darinya. Beliau mengajarkan serangkaian meditasi dan beliau berkata kepada saya bahwa untuk dasarnya fokuskan pada pemahaman tentang konsep 'diri'. Beliau memberitahukan saya untuk menerima keadaan tersebut, kemudian lanjutkan ke hal-hal yang lebih rumit, dan pada dasarnya adalah mengenai belaskasih dan kebijaksanaandan Anda akan memperoleh kebahagiaan yang sebenarnya!
Kemudian saya mulai melakukannya bersama Rinpoche yang mengajarkan saya bagaimana menangani konsep tentang diri. Saya juga mempelajari banyak kebiasaan dalam Buddhis darinya.Tetapi Rinpoche juga berpesan pada saya untuk tidak menerima begitu saja apa yang telah dia katakan hanya dengan berdasarkan keyakinan! "Rasakan, kunyah, dan uji terlebih dahulu kebenarannya seperti tukang emas menguji keaslian emasnya". Saya rasa itulah kekuatan agama Buddha. Agama Buddha tidak menarik-narik orang lain untuk menjadi pengikutnya begitu saja. Seorang umat Buddha tidak akan memintamu mengucapkan I4 Doa kepada Bunda Maria sebelum mereka memberimu makanan. Agama Buddha bukanlah mengenai hal-hal seperti demikian. Hal utama yang telah membuat saya tertarik dengan agama Buddha adalah bahwa umat Buddha menaruh perhatian terhadap kebenaran. Inti dalam agama Buddha adalah cintakasih dan belaskasih dan kebaikan serta kebahagiaan bagi semua makhluk.

Anda jelas sekali sangat terpengaruh oleh ajaran Buddha. Inginkah Anda menjadi bhikkhu?
Tidak, tetapi ada sesuatu dalam diri saya menginginkannya. Ada bagian dari diri saya yang sedang mencari penegasan untuk melakukannya. Saat ini saya sedang bersungguh-sungguh dalam Buddhisme. Saya akan terus berlatih dan mempelajari agama Buddha.

Bagaimana pengaruh agama Buddha terhadap kehidupan Anda sebagai seorang aktor?
Saya telah dilatih menjadi seorang aktor selama 10 tahun: melihat diri saya, bertanya mengapa saya merasakan sesuatu hal, apa yang saya rasakan sekarang, mempelajari berbagai ekspresi fisik, dan mencoba mempelajari aspek emosi dan kecerdasan dalam setiap hubungan dengan orang lain. Dan ini telah membantu saya. Agama Buddha mengandung unsur pengobatan dalam beberapa hal dan saya telah sedang melatih pikiran saya.

Adegan pertama yang Anda mainkan dalam film tersebut adalah pencapaian penerangan sempurna oleh Siddhartha. Bagaimana Anda persiapan Anda?
Saya hanya mencoba memberi diri saya ketenangan dan ruang tanpa batas. Bernardo mempunyai sebuah gambar yang menarik dari sebuah buku tentang ekspresi muka. Saya hanya mencoba dan berusaha memahami makna gambar tersebut dan membayangkannya.

Bagaimana tentang diet ketat yang Anda harus lakukan ketika Anda melakukan adegan Siddharta yang telanjang dan membiarkan dirinya kelaparan di dalam hutan?
Anda dan saya tahu bahwa saya suka makan! Makan adalah salah satu hal paling menyenangkan dalam kehidupan! Tetapi dalam beberapa minggu itu kami melakukan adegan menahan nafsu tersebut, jadi saya puasa; saya hanya makan sebuah jeruk dan 10 liter air dalam satu hari!
Siddharta mencari pembebasan dari usia tua, penderitaan, dan kematian. Beliau sedang berusaha menaklukkan tubuh jasmani-Nya, menaklukkan nafsu-Nya, kemelekatan-Nya, dan Beliau sedang menguji diri-Nya. Beliau berpikir, "Jika Saya dapat menaklukkan nafsu Saya, Saya akan terbebas."

Bagaimana gambaran secara keseluruhan dari film tersebut?
Kami membuat penggambaran tentang Pangeran Siddharta dengan nuansa penuh arti moral, menyentuh, dan penuh belaskasih. Ini merupakan pendapat saya.

Bagaimana reaksi umat Buddha tentang film ini?
Saya tidak tahu. Saya belum menonton film tersebut. Pada awalnya sutradara Satyajit Ray yang berkebangsaan India menolak ide pembuatan film yang berkisah tentang Sang Buddha.Tentunya pasti ada orang lain yang berpikiran seperti itu juga. Film ini bukan berkisah tentang Sang Buddha. Ini merupakan penggambaran tentang Pangeran Siddharta dan kehidupannya. Bernardo telah sangat berhati-hati mengenai tanggungjawabnya. Tradisi, ritual, dan praktek yang digambarkan dalam film tersebut sangatlah teliti, dan pengajaran tentang Dharma di dalamnya cukup kompleks, berharga, dan mendalam, dan mudah-mudahan hal itu akan berguna.

Ada komentar lebih lanjut lagi?
Anda harus membaca buku-buku karangan Yang Mulia Dalai Lama, atau mendengarkannya. Beliau sangat mengesankan. Ada juga buku ini yang sedang saya baca baru-baru ini berjudul Kindness, Clarity and Insight (Kebaikan, Pencerahan dan Pandangan Terang). Jika ada yang ingin merasakan sedikit tentang hal-hal ini kebaikan, pencerahan dan pandangan terang (pemahaman yang benar) mereka harus membacanya.



Sumber: "The Sound Issue", April 1993i-D magazine (UK)

Sumber: How to Develop Happiness in Daily Living
Penerbit : Bodhi Buddhist Centre Indonesia, Medan

Selasa, 07 Desember 2010

Pengaruh agama Buddha terhadap agama Kristen



Pengaruh agama Buddha terhadap agama Kristen 

Penulis : Amarasiri Weeraratne, Ceylon



Terjemahan dari :
Influence of Buddhism on Christianity,
dalam ‘Voice of Buddhism’ Vol. 5 No.2, June 1968.

Dalam buku The Pagan Source of Christianity, Edward Carpenter menerangkan bagaimana Mithraisme atau kepercayaan-kepercayaan kuno kepada Dewa Matahari mempengaruhi dogma dan ajaran-ajaran Kristen. Dalam The Source of Christianity, Kwaja Kamal Udin, Imam masjid London menerangkan dengan jelas bagaimana doktrin-doktrin Bunda Perawan, Penyaliban untuk menyelamatkan dunia, Kebangkitan pada hari ketiga dan penetapan tanggal 25 Desember sebagai hari lahir Yesus diambil dari kepercayaan kuno kepada Dewa Matahari. Tidak hanya ini, tetapi juga tanggal-tanggal yang ditetapkan untuk peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Kristus diambil dari Mithraisme.

Agama Kristen didirikan di atas paham-paham yang ada dan dapat berterimakasih atas penghancuran perpustakaan Alexandria yang memiliki bukti-bukti yang nyata mengenai dasar-dasar agama tersebut. Agama Kristen memang tumbuh dari agama-agama yang lebih dulu, lebih tua dan lebih superior. Paham Logos berasal dari Neo Platonisme, paham Tuhan dari Judaisme, Baptisme dari Essenes, Komuni dari Zoroastrianisme dan Juru Selamat Dunia dari Paganisme….dan misteri-misteri hampir seluruhnya diambil ke dalam agama Kristen.

Dalam peniruan dari agama-agama yang lebih tua agama Kristen dalam kitab Amsal mengutip beberapa pasal kata demi kata dari tulisan-tulisan orang bijaksana Mesir Amenemopa. “Surat-surat Paulus” berasal dari versi-versi Samaria yang bersumber dari versi-versi Sansekerta mengenai Deva Bodhisattva. Bangsa Yahudi memiliki kitab Daniel dari buku-buku Zoroaster dan demikian juga kitab Wahyu merupakan pengetahuan yang telah dikenal pada masa sebelum Kristen dan mempunyai hubungan dengan tulisan-tulisan Zoroaster.Keempat Injil dan sebagian percakapan-percakapan merupakan penyajian kembali dalam bentuk lain dari keempat fase kehidupan Buddha (Marie Harlowe, Michigan USA).

Dalam artikel ini bukan maksud saya untuk meninjau semua sumber agama Kristen, melainkan pengaruh agama Buddha yang ada hubungannya dengan agama Kristen. Telah dikenal bahwa agama Buddha merupakan agama missionary yang pertama di dunia. Ketika dapat mengumpulkan 60 orang Arahat, Buddha mengutus mereka untuk pekerjaan missi dengan kata-kata, “Mengembaralah, oh para Bikkhu, untuk kesejahteraan dunia…” dan seterusnya. Berbeda dengan Yesus, yang ketika Ia hidup tidaklah menginginkan ajarannya dibawa keluar dari bangsa Yahudi. Ia berkata kepada murid-muridnya : “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Matius 10 : 5-6). Tetapi setelah kebangkitannya di hadapan murid-muridnya Ia berkata : “Jadikanlah semua bangsa muridku”. Hal ini berbeda dengan apa yang dikatakannya ketika Ia hidup.

Dalam mewartakan agama Buddha, missionaris-missionaris Buddha sudah aktif sejak dari awal mula. Konferensi ( konsili ) Agung Sangha ketiga yang diadakan di Pataliputra, 250 tahun setelah Sang Buddha mencapai Parinibbana, memutuskan untuk menyiarkan agama Buddha ke seluruh dunia. Demikianlah di bawah Kaisar Asoka, berbagai delegasi dhammaduta diutus ke pelbagai negara barat dan timur. Di barat, Alexandria di Mesir dan lima negara Yunani di Asia kecil disebutkan dalam Inskripsi Raja Asoka, juga dalam Mahavamsa.

Alexandria di Mesir yang disebutkan di situ adalah kota kedua dalam Kekaisaran Romawi. Kota tersebut merupakan pusat kebudayaan di dunia barat pada abad kedua sebelum Masehi. Separuh kapal-kapal dagang pada zaman itu berlabuh di pelabuhan kota. Tidak hanya sebagai pusat perniagaan tetapi juga sebagai pusat kebudayaan tempat barat dan timur bertemu. Di kota kosmopolitan ini, sarjana-sarjana dari daerah sekitarnya berkumpul untuk mendiskusikan filsafat dan ilmu pengetahuan. Mereka menggunakan fasilitas perpustakaan Alexandria yang termashyur itu yang memiliki perbendaharaan pengetahuan yang berharga.

Di sini sejumlah pengaruh agama Buddha datang melalui misionaris-missionaris Asoka, pengetahuan mengenai agama Buddha dan buku-buku yang dipengaruhi agama Buddha tersedia untuk sarjana-sarjana ini. Clement dari Alexandria (abad ke-2) menyebut-nyebut agama Buddha, Jain dan Brahmana dalam tulisannya. Ia menyebut nama Buddha. Pendeta Inge dalam tulisannya juga menyebutkan fakta-fakta yang sesuai bahwa Alexandria adalah tempat belajar dan pusat kebudayaan pada abad kedua Masehi. Di sini, dalam perpustakaan Alexandria inilah penulis-penulis Injil memperoleh pengetahuan tentang agama Buddha dan paham-paham Buddha yang menjadi latar belakang tulisan-tulisan mereka.

Hal ini menimbulkan pertanyaan bilamana Injil-injil ditulis dan oleh siapa? Cukup bertentangan dengan pendapat umum, Injil-injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes bukanlah ditulis oleh mereka. Tidak ada bukti-bukti di dalam Injil-injil berkenaan dengan pengarangnya, kecuali dalam Injil Yohanes. Injil terakhir yang penuh dengan paham-paham Theologis yang berbeda dengan ajaran-ajaran Etika yang terdapat dalam ketiga Injil lainnya. Ini merupakan Injil yang diduga oleh para ahli sebagai hasil karya seorang Theolog yang lebih belakangan. Faustus seorang Manichean abad ketiga menyatakan : Tiap orang mengetahui bahwa Injil-injil bukanlah ditulis oleh Yesus Kristus ataupun oleh murid-muridnya sendiri, melainkan lama setelah mereka dan dipengaruhi oleh tradisi-tradisi ditulis oleh orang-orang yang mengetahui serta menduga bahwa tulisan-tulisan mereka tidaklah akan diterima oleh karena bukanlah datang dari observasi mereka sendiri. Oleh karena itu mereka menempatkan sebagai tradisi nama rasul-rasul pada masa itu.

Bahkan Augustine kepala gereja pada masa awal meyatakan, “Hal-hal yang sekarang dikenal sebagai agama Kristen muncul diantara agama-agama… maupun yang sudah ada sebelum agama Kristen muncul”. Hal ini menerangkan bagaimana ajaran-ajaran dan kepercayaan-kepercayaan dari agama-agama sebelum Kristen berkorporasi menjadi agama Kristen.

Keempat Injil ditulis pada masa pertengahan kedua abad kedua Masehi. Pada waktu itu semua murid Yesus telah meninggal. Karena Yesus menjanjikan kedatangannya yang kedua dan datangnya akhir zaman dalam waktu dekat, yaitu dalam masa hidup murid-muridnya, maka tidaklah dipikirkan untuk mencatat Injil atau yang diajarkan Yesus. Tetapi setelah murid Yesus yang terakhir bertahan Yohanes meninggal pada usia 120 tahun, ternyata ramalan Yesus tidak tergenapkan. Mereka kemudian menduga bahwa kedatangannya yang kedua baru akan terjadi nanti pada suatu waktu yang jauh.

Setelah gereja tumbuh dan berpengaruh dengan diangkatnya menjadi agama negara dari Kekaisaran Romawi, maka menjadi perlu untuk menulis Injil-injil dan kitab-kitab suci agama Kristen lainnya. Sampai waktu itu Perjanjian Lama, kitab suci bangsa Yahudi melayani kebutuhan agama Kristen. Sejak waktu itulah muncul sejumlah besar tulisan-tulisan suci sebagai Injil-injil dan surat-surat.

Lukas pada permulaan Injilnya, menyebutkan adanya banyak Injil. Ini merupakan sindiran terhadap 49 Injil yang semuanya mengaku otentik yang ada pada waktu itu. Bahkan surat Petrus yang kedua dalam Perjanjian Baru sekarang ini dikenal sebagai hasil karya seorang penulis yang memakai nama murid Yesus yang dihormati itu. Pengikut-pengikut Marcion menyatakan bahwa Injil Lukas merupakan saduran dari Injil yang ditulis oleh Marcion dengan hiasan-hiasan dan tambahan-tambahan.

PERJANJIAN BARU

Dari kekacauan ini Perjanjian Baru yang ada itu diseleksi dan disusun oleh Konsili yang diketuai oleh Paus di Damascus pada tahun 382 setelah Masehi. Ini kemudian disahkan oleh Konsili di Karthago dan kitab-kitab palsu yang dikenal sebagai ‘The Sunday Afternoon Literature of The Early Church’ tidak dipakai lagi. Sejak saat itu tidak ada lagi kontroversi mengenai siapa yang autentik.

Tidak hanya Marcionisme tetapi juga Therapeutae, Essenes dan Gnostic adalah sekte-sekte Kristen yang sudah ada sebelum kristalisasi Gereja Katholik. Semua sekte ini dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Buddha. Peraturan dan upacara penahbisan dilahirkan dari pengaruh agama Buddha. Mendiang pendeta Menzil berpendapat tanpa ragu-ragu bahwa upacara-upacara dan ritus-ritus Therapeutae berasal dari missionaris-missionaris Buddha Asoka yang datang ke Mesir. Kata Therapeutae sendiri berasal dari bahasa Pali Theraputta yang merupakan istilah bagi rahib Buddha terutama Samanera, Juga doktrin Essenes merupakan campuran antara Judaisme dan ajaran–ajaran Buddha yang dapat dilihat dari pandangan mereka mengenai keselamatan melalui perkembangan 8 Tingkatan sesuai dengan 8 Jalan Utama dari agama Buddha.

Basilides, Bardesanes, Corpocretes, Marcion dan Valentinus adalah guru-guru Gnostic yang agung yang hidup sebelum terbentuknya Gereja Katholik. Mereka merupakan orang-orang terpelajar yang mempelajari ajaran-ajaran agama dari Timur dan Barat. Pengetahuan mereka mengenai paham-paham Buddha diteruskan kepada pengikut-pengikut mereka dan kepada agama Kristen yang datang setelah mereka. Gnostic percaya akan Karma dan Kelahiran Kembali, yang menjelma sebagai doktrin Kristen dalam pekerjaan suci mereka Pistis Sophia yang artinya Love and Wisdom – Karuna dan Panna (kasih dan kebijaksanaan), dua sifat dasar yang ditekankan di dalam agama Buddha.

Bahwa penulis-penulis Injil mengambil paham-paham agama yang mereka peroleh dari perpustakaan Alexanderia dapatlah dimengerti bila kita melihat adanya persamaan-persamaan antara kehidupan Buddha dan Yesus. Bahan-bahan lebih lanjut yang diambil dari kitab-kitab suci agama Buddha akan menguatkan pendapat ini.

Marilah kita memeriksa cerita-cerita tentang kehidupan Buddha dan Yesus. Nyanyian-nyanyian dan puji-pujian oleh para Malaikat pada waktu kelahiran Yesus mengingatkan kepada nyanyian-nyanyian oleh para Dewa pada waktu kelahiran pangeran Siddharta. Sebagaimana ditunjukkan oleh Vasilijev, kelahiran Bodhisattva (calon Buddha) telah dinubuatkan oleh para ahli ramal karena munculnya Bintang Bunga di atas Horizon. Peristiwa ini sesuai dengan Bintang Bethlehem. Lalita Vistara menyebutkan bahwa para dewa menyembah di hadapan bayi Bodhisattva. Injil menyebutkan bahwa orang-orang Majus menyembah di hadapan bayi Yesus.

Baik ibu Buddha maupun ibu Yesus melahirkan putera mereka dalam perjalanan. Sebatang cabang Sal terikat di atas kepala bayi Bodhisattva. Setangkai daun Palm terlihat diatas kepala bayi Yesus dalam lukisan Voltaire di perpustakaan Born. Sebagaimana disebutkan dalam Asvaghosa Buddhacarita, Bodhisattva yang belum dilahirkan terlihat transparant dalam rahim ibunya. Seni abad pertengahan melukiskan Maria dalam model ini.

Menurut ceritera tradisional Tiongkok, raja Bimbisara diperingatkan terlebih dahulu akan kelahiran Bodhisattva dan dinasehati untuk menggunakan tentaranya membunuh sang pangeran. Disebutkan bahwa raja menolak nasehat tersebut. Herodes disebutkan telah memerintahkan untuk membunuh semua anak di bawah usia 3 tahun dengan maksud untuk membunuh Yesus. Sama sekali tidak ada bukti sejarah mengenai pembunuhan bayi-bayi tersebut baik dari catatan-catatan Yahudi maupun Romawi dan seluruh ide ini merupakan mitos yang diambil dari legenda Mahayana.

Empat dewa pengasuh menyambut bayi Bodhisattva yang baru lahir. Empat raja dari Timur mengunjungi bayi Yesus di Bethlehem. Pangeran muda Siddharta adalah seorang murid yang brilliant dan ahli debat yang cakap. Sesuai dengan ini Yesus pada umur dua belas tahun digambarkan sebagai ahli debat yang cakap, yang berdebat dengan alim-ulama atau rabi-rabi Yahudi terpelajar di dalam Bait Allah mereka di Yerusalem. Hal ini tidak mungkin, karena bukanlah kebiasan rabi-rabi yang terpelajar ini untuk menghibur ataupun berdebat dengan anak-anak di dalam Bait Allah mereka di Yerusalem.

Cobaan terhadap Yesus oleh setan diambil dari cobaan Mara terhadap Bodhisattva. Menurut cerita tradisional Mahayana Bodhisattva berpuasa 49 hari setelah Ia mencapai penerangan. Serupa dengan ini Yesus berpuasa 40 hari. Setelah mengalahkan Mara Buddha memproklamasikan ajaran-ajarannya ke dunia. Dhammanya disebut ‘Subbhashita’ yang artinya berita baik, kata ‘Injil’ juga berati ‘berita baik’. Cerita tradisional Mahayana menyebutkan bahwa Bodhisattva dibawa ke puncak gunung diperlihatkan sebuah kota yang amat indah di bawahnya dan dijanjikan jabatan raja jika Ia menurut kepada Mara. Sesuai dengan ini kita temukan dalam Injil cerita tentang cobaan terhadap Yesus.

Banyak tokoh pertapa, brahmana maupun para dewa memberikan kesaksian atas penerangan sempurna Sang Buddha. Yesus mempunyai seorang Yohanes Pembabtis, seorang nabi kharismatik yang memberi kesaksian bahwa “Terang” itu telah datang. Ketika Bodhisattva meningalkan cara hidupnya yang keras dan makan, pertapa-pertapa temannya menyebutnya sebagai orang yang rakus. Orang-orang yang melihat Yesus makan dan minum sesuka hati menyebutnya sebagai orang yang lahap dan peminum. Buddha mencuci kaki seorang rahib sakit yang mengibakan hati, serupa dengan ini Yesus membasuh kaki murid-muridnya.

Dharmapada Tiongkok menyebutkan bahwa Buddha berjalan di atas air. Juga disebutkan bahwa salah seorang muridnya yang bernama Punna berjalan di atas gelombang-gelombang dan meredakan angin ribut di laut untuk menolong para pelaut yang berada dalam keadaan bahaya. Petrus disebutkan dalam injil mencoba perbuatan ini, tetapi Ia mulai tenggelam dan ditolong oleh Yesus. Disebutkan pula Yesus menghardik angin ribut dan gelombang di sebuah danau.

Buddha disebutkan seolah-olah telah turun dari surga di Sankassa. Injil-injil menyebutkan seolah-olah Yesus tampak dalam serombongan Malaikat surga untuk memuliakannya. Ketika gajah Nalagiri yang ganas menyerang Buddha, semua murid-muridnya lari kecuali Ananda. Semua murid-murid Yesus lari ketika Ia ditangkap di Getsemani. Diantara murid-murid Buddha, Devadatta yang tidak setia. Yesus mempunyai Yudas Iskariot yang menghianatinya.

TIDAK ADA SESUATU YANG BARU YANG DISEBUTKAN

Menurut Injil-injil terjadi kegelapan antara pukul dua belas hingga pukul tiga setelah Yesus disalibkan. Tidak ada penulis Romawi, sejarahwan ataupun penulis Yahudi yang pernah menyebutkan peristiwa tersebut. Yesus hidup dalam sejarah dan zaman di mana penulis-penulis Romawi telah mencatat dengan sangat teliti sekali semua fenomena-fenomena alam yang mereka observasi seperti gempa bumi, meteor, gerhana, komet, bintang-bintang dan sebagainya. Tidak ada sesuatupun yang disebutkan mengenai peristiwa yang tidak seperti biasanya ini. Gibbon dalam ‘Decline and Fall of The Roman Empire’ mengomentari anomali ini dengan sebuah sarkasme. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa cerita mengenai kegelapan ini diilhami oleh kejadian serupa dalam cerita tradisional Buddhis ketika Buddha mencapai Maha Parinibbana.

Pengaruh agama Buddha terlihat lebih lanjut dalam ajaran Kristen. Ajaran-ajaran Buddha dalam bentuk tersamar ditemukan dalam Injil-injil sebagai doktrin Kristen. Tidak ada sesuatu yang baru dalam ajaran-ajaran Yesus yang tidak ada dalam agama-agama sebelumnya.

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu yaitu supaya kamu saling mengasihi”. Adalah pernyatan kembali dari kata-kata Buddha “Akkodena jinekodam, asadum sadune jine”. Dalam Mahayana Sutra disebutkan “Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin mereka memperlakukan kamu”. Ini diajarkan sebagai ajaran emas Yesus dalam agama Kristen. Kata-kata Buddha. ‘Yadisam vapate bijam tadisam harate phalam’ menjelma menjadi ‘hukum tabur-tuai’ dalam ajaran Kristen.

Perumpamaan-perumpamaan Buddhaghosha juga telah mempengaruhi penulis-penulis Injil. Buddhaghosha menyebutkan bahwa dengan melihat seorang wanita dengan nafsu, kehidupan seorang Brahmacari telah ternoda. Yesus mengatakan bahwa setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berjinah dengan dia di dalam hatinya. “Orang buta menuntun orang buta” di dalam Injil diambil dari Lalita Vistara.

“Berilah kepada orang yang meminta kepadamu” adalah pengulangan kembali dari kata-kata Buddha “Dajja appasminhi yachito”. “Air sejuk secangkir” ditemukan dalam terjemahan ke dalam bahasa Tionghoa dari Mahayana Sutra ‘Ta Tan Yan Kiu Lu’.

Murid-murid Yesus yang dikatakan sebagai orang yang tidak percaya kepada Karma dan kelahiran kembali ditunjukkan dalam cerita tentang orang yang buta sejak lahir dan bertanya apakah keadaannya disebabkan oleh dosa-dosa sendiri atau dosa-dosa orang tuanya. Terdapat kejadian yang serupa dalam Saddharma Pundarika Sutra, dimana di dalamnya disebutkan bahwa orang yang dilahirkan buta sejak lahir karena sejumlah akusala kamma yang dibawanya. Yesus menunjukkan fakta bahwa apa yang masuk ke dalam mulut tidak dapat menajiskannya adalah pengulangan kembali dari kata-kata Buddha dalam Amagandha Sutra. Ajaran Kristen untuk memberikan pipi kanan kepada orang yang menampar pipi kiri diambil dari nasehat Buddha kepada Punna sebelum Ia berangkat ke Sunaparanta. "Janganlah memukul setelah dipukul", Buddha berkata pada kesempatan itu.

Lagi-lagi dalam perumpamaan Yesus kita melihat pengaruh paham-paham Buddha. “Kerajaan surga seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah, setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu”. Lambang suci agama Buddha Mahayana adalah permata dari mutiara. Sastra agama Buddha Tiongkok menyebutkan bahwa seorang yang telah menemukan mutiara yang sangat berharga (kebijaksanaan) melemparkannya kembali ke dalam laut, setelah Ia bertekad mengeringkan laut untuk mendapatkannya kembali.

Buddha dalam menunjukkan kebajikan membandingkannya dengan benih-benih yang ditaburkan di atas tanah subur. Dalam sebuah stanza “Saddha bijam tapo vutti”, Buddha membandingkan dirinya sendiri sebagai penabur dan pembajak. Demikian pula terdapat perumpamaan yang terkenal tentang seorang penabur dalam ajaran Kristen. Persembahan seorang janda miskin diambil dari hal yang serupa di dalam Kalpana Manditika. Rumah yang didirikan diatas pasir diambil dari Lalita Vistara. Cerita tentang Yesus meminta air kepada seorang wanita diambil dari cerita serupa tentang Ananda.

Banyak lagi yang dapat dibicarakan dalam hal ini. Fakta-fakta yang disebutkan di atas akan memberikan pengetahuan bagaimana jauhnya pengaruh agama Buddha dalam membentuk Injil-injil agama Kristen. Dapat disebutkan bahwa perpustakaan Alexandria telah dimusnahkan oleh sekelompok orang-orang Kristen yang fanatik di bawah pimpinan seorang Uskup pada tahun 391 setelah Masehi. Sejak itu sumber-sumber dari mana penulis-penulis Kristen memperoleh pengetahuan mereka mengenai agama-agama lain telah musnah dari dunia ini. Akhirnya saya dapat menceritakan bahwa Bodhisattva telah dinyatakan suci oleh gereja Katholik sebagai Santo Josaphat. Max Muller mengomentari hal ini dan mengatakan bahwa guru Kapilavastu itu telah dihormati oleh Gereja Katholik dengan menjadikannya seorang Santo.

Seseorang yang membaca cerita Santo Josaphat akan segera menemukan bagaimana cerita Bodhisattva’s Great Renunciation tersebar ke barat dan menimbulkan kegaguman dari orang beragama di barat.

“Agama Kristen seperti sebuah sungai yang mengaliri daerah yang amat luas. Di banyak titik dengan nyata ia memperlihatkan infiltrasi dari paham-paham timur”, Bardesanes, guru Gnostik yang terakhir mengakui pengaruh ajaran-ajaran agama Buddha. 

Senin, 06 Desember 2010

Goldie Hawn Ingin Ajar Buddhisme Pada Anak-Anak





Goldie Hawn Ingin Ajar Buddhisme Pada Anak-Anak
Saturday, February 20, 2010

California, AS, sfgate.com --
Goldie Hawn sedang berwancana untuk mendirikan sebuah sekolah Buddhis di Inggris.

Yayasan artis Hawn telah mengajarkan anak-anak teknik-teknik Buddhis di sekolah-sekolah di seluruh Amerika, dan sekarang ia ingin mengambil inisiatif melintasi lautan Atlantik, dan menggunakan teknik-teknik tersebut untuk membantu anak-anak Inggris membangun stabilitas sosial dan emosional dan mengekang kekerasan yang muncul di dalam kelas dan di tempat bermain.

Hawn mengatakan, ”Kita butuh untuk berpikir ulang seluruh pendekatan kita terhadap pendidikan dalam kelas, memadukan ilmu saraf (neuroscience) dengan teknik-teknik pembelajaran sosial dan emosional terbaru.

“Seorang anak yang penuh kedamaian dan bahagia merupakan langkah awal menuju sebuah dunia yang penuh kedamaian.”

Rencana Hawn tersebut telah mendapatkan dukungan dari Partai Konservatif Inggris, dimana sekretaris pendidikannya Michael Gove mengonfirmasikan, “Kami mengadakan pertemuan untuk membahas bagaimana Hawn dapat membantu pendidikan di sini.”

“Kami membutuhkan lebih banyak sekolah-sekolah baru di luar kontrol pemerintah untuk menghadapi monopoli birokrasi.”

---
Catatan Bhagavant.com:
Goldie Hawn merupakan seorang aktris, sutradara, dan produser berkebangsaan Amerika Serikat yang memenangkan Academy Award untuk Aktris Pendukung Terbaik tahun 1969. 

Sumber: http://www.bhagavant.com/home.php?link=news&n_id=210

Kamis, 02 Desember 2010

11.000 Orang Alihkeyakinan Jadi Buddhis





11.000 Orang Alihkeyakinan Jadi Buddhis

Saturday, January 30, 2010

India, Express News Service --
Hampir 11.000 orang, termasuk mereka yang berasal dari komunitas Koli dan Kshatriya serta keluarga-keluarga Kristiani, memeluk Buddhisme pada sebuah kegiatan di Saijpur Bogha pada hari Minggu (24/1).

Para bhikkhu dari Bhante Pragnyasheel mengusahakan iklar (visudhi – red) untuk para pengalihkeyakinan baru. Namun pejabat wilayah Ahmedabad mengatakan bahwa tidak ada pengalihkeyakinan yang efektif sampai perijinan resmi dikeluarkan.

“Lima keluarga Hindu Dalit yang pertama-tama beralihkeyakinan kepada Kekristenan juga beralihkeyakinan kepada Buddhisme pada kegiatan tersebut,” kata Balkrishna Anand, penyelenggara dari Bauddh Dhamma Deeksha Angikar Abhiyan (Gujarat). “Kami sudah bekerja pada acara ini untuk beberapa bulan yang lalu, mengunjungi beberapa wilayah dan melakukan pertemuan untuk memobilisasi orang-orang,” katanya menambahkan bahwa keseluruhan ada 350 pertemuan yang diadakan untuk menyebarkan pesan ke seluruh negeri.

Menetapkan bahwa hampir 11.000 orang beralihkeyakinan kepada Buddhisme pada kegiatan tersebut, Anand mengatakan bahwa para pengalihkeyakinan baru telah datang dari berbagai tempat jauh seperti Patan, Surendranagar, Rajkot, Vadodara, Junagadh dan Mehsana. Pemimpin Buddhis terkemuka Kalpana Saroj merupakan tamu utama pada kegiatan yang dipimpin oleh lima orang bhikkhu dari berbagai tempat di negara itu.

Sumber: http://www.bhagavant.com/home.php?link=news&n_id=207